Praktik Baik Implementasi UKBI Adaptif Merdeka Dorong Peningkatan Kemahiran Berbahasa Indonesia
Pada sesi diskusi praktik baik, Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Papua, Imelda, mengungkapkan kegembiraannya setelah menggunakan UKBI Adaptif Merdeka di sekolah yang dipimpinnya. “Harapan saya, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa terus secara rutin menyelenggarakan sosialisasi penggunaan UKBI di berbagai sekolah agar makin banyak pelajar yang terukur kemahiran berbahasanya dan tentunya memperoleh manfaat yang baik,” tegasnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Nurhayati, menyampaikan bahwa dalam hal mengukur kemahiran penggunaan bahasa Indonesia, salah satunya bagi para mahasiswa, alat uji kemahiran berbahasa tidak hanya sekadar mengujikan tata bahasa kepada masyarakat, tetapi juga harus disosialisasikan kepada para dosen fakultas.
“Dengan menggunakan bahasa Indonesia secara baik, mahasiswa akan lebih percaya diri. Mereka akan mampu mengungkapkan apa yang mereka inginkan,” urai Nurhayati.
Selanjutnya, perwakilan salah satu asosiasi profesi, Bahrul Hayat menambahkan bahwa sebagai sebuah tes, instrumen UKBI telah memiliki pijakan teori yang kokoh, telah menggunakan analisis psikometri, dan telah memiliki skala penilaian yang baku. “Selain itu, UKBI telah memperhatikan administrasi tes dengan menggunakan sistem yang canggih serta telah membuat deskripsi untuk variabel-variabel yang diukur. Semua itu merupakan ciri tes yang bermutu dan modern,” imbuhnya.
Manfaat positif UKBI turut dirasakan oleh pengguna di bidang jurnalistik. Teguh Priyanto dari LKBN Antara mengatakan, Terobosan baru dari UKBI telah menjadi sebuah alat untuk membantu menyaring para peserta dasar pewarta sehingga kami tidak perlu repot melakukan tes bahasa Indonesia.”
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Nahdiana, menyampaikan mengenai pemanfaatan UKBI di lingkungan kerjanya. “UKBI menjadi sangat penting untuk mengevaluasi kemampuan berbahasa sekaligus memotivasi pendidik dan peserta didik untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar sehingga mereka terhindar dari kesalahan persepsi akibat kesalahan berbahasa,” ujarnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!