Prabowo Singgung Politikus ‘Girang’ Saat Bencana, Hasto Tegaskan PDIP Pilih Jalur Kemanusiaan dan Politik Ekologi
“Sebaiknya mari kita merangkul semuanya agar fokus membantu rakyat. Korban bencana sampai sekarang belum sepenuhnya pulih. Infrastruktur dan fasilitas publiknya pun masih membutuhkan penanganan,” ujarnya.
Lebih jauh, Hasto menilai bencana harus dimaknai sebagai peringatan keras atas kerusakan ekologis dan dampak pemanasan global. Ia menekankan pentingnya evaluasi kebijakan tata ruang, pengelolaan lingkungan, serta penguatan sistem peringatan dini.
“Apakah kita senang menghadapi bencana? Tentu saja tidak. Persoalan bencana ini merupakan suatu teguran bagi kita semua yang telah membiarkan bumi kita menderita melalui kebijakan-kebijakan yang salah di masa lalu,” ungkapnya.
Dalam konteks itu, Hasto menyebut PDIP melalui Rakernas konsisten mengusung agenda Politik Ekologi dan gerakan “Merawat Pertiwi” sebagai upaya menjaga hutan, sungai, serta disiplin tata ruang. Ia juga mendorong pemerintah menguasai teknologi prediksi bencana agar mitigasi berjalan lebih cepat dan terkoordinasi sehingga korban jiwa dapat diminimalisir.
Di tengah dinamika pernyataan politik tersebut, Hasto berharap pemerintah membuka ruang kolaborasi bagi siapa pun yang memiliki niat baik membantu rakyat.
“Pemerintah tentu diharapkan merangkul siapa pun yang punya niat baik untuk bersama-sama bergotong royong membantu rakyat di wilayah tersebut. Itu harapan kami,” kata dia.
Pernyataan Presiden dan respons PDIP memperlihatkan dua penekanan yang berbeda: satu sisi menyoroti potensi politisasi bencana, sementara sisi lain menekankan pentingnya solidaritas, pemulihan ekologis, dan penguatan mitigasi sebagai agenda bersama bangsa. @kanaya
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!