Pojok Carita Resmi Hadir, Bandung Punya Galeri Seni Baru
Pameran perdana di Galeri Seni Pojok Carita bertema “Ti Alam, Jadi Carita”, di kawasan Kiara Artha Park, Minggu (1/6/2026) yang mengajak masyarakat melihat bagaimana alam menjadi sumber inspirasi berbagai karya seni. /visi.news/ist
VISI.NEWS | BANDUNG – Kota Bandung kembali memperkuat reputasinya sebagai kota kreatif dengan hadirnya Pojok Carita, sebuah galeri seni baru yang berada di kawasan Kiara Artha Park. Kehadiran ruang seni ini diharapkan menjadi wadah bagi para seniman untuk memamerkan karya, berkolaborasi, sekaligus mendekatkan seni kepada masyarakat luas.
Peresmian dan pameran perdana galeri tersebut mendapat perhatian langsung dari Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, yang menyempatkan hadir pada Minggu (31/5/2026).
Dalam kunjungannya, Farhan menyampaikan apresiasi kepada manajemen Kiara Artha Park yang telah menyediakan ruang khusus bagi para pelaku seni untuk menampilkan karya dan berinteraksi dengan masyarakat.
Menurutnya, ruang terbuka publik tidak hanya berfungsi sebagai pusat aktivitas ekonomi dan rekreasi, tetapi juga harus menjadi tempat tumbuhnya ekspresi budaya dan kreativitas masyarakat.
“Sebagai ruang terbuka publik, Kiara Artha Park memang harus menampilkan banyak hal. Tidak hanya memiliki nilai ekonomi yang tinggi, tetapi juga menjadi tempat untuk menyampaikan ekspresi seni bagi masyarakat, tidak hanya warga Bandung tetapi juga seluruh Indonesia,” ujar Farhan.
Ia menilai kehadiran Pojok Carita menjadi bukti bahwa Bandung tetap konsisten menjaga identitasnya sebagai kota kreatif yang selama ini dikenal sebagai pusat lahirnya berbagai inovasi, karya seni, dan gagasan kreatif.
Farhan mengatakan Bandung memiliki modal yang sangat kuat dalam pengembangan seni dan budaya. Kota ini didukung oleh berbagai perguruan tinggi yang memiliki program studi seni murni maupun seni terapan serta melahirkan banyak seniman yang karyanya dikenal hingga tingkat nasional dan internasional.
Karena itu, menurutnya, ruang-ruang kreatif seperti Pojok Carita memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem seni agar terus berkembang.
“Bandung sebagai kota kreatif tidak boleh berhenti dari kegiatan-kegiatan yang sifatnya nyeni. Bandung harus terus bergerak dan memberikan ruang bagi kreativitas masyarakat,” katanya.
Pada pameran perdana tersebut, tema yang diangkat adalah “Ti Alam, Jadi Carita”, yang mengajak masyarakat melihat bagaimana alam menjadi sumber inspirasi berbagai karya seni.
Farhan menilai tema tersebut sangat relevan karena menghubungkan manusia dengan lingkungan melalui pendekatan artistik yang penuh makna.
Menurutnya, seni tidak hanya berfungsi sebagai media ekspresi, tetapi juga dapat meningkatkan literasi budaya, membangun dialog sosial, dan memperkuat kesadaran masyarakat terhadap berbagai isu kehidupan.
“Melalui seni, masyarakat dapat mengekspresikan perasaan, meningkatkan literasi budaya, sekaligus membangun dialog. Karena itu, ruang seperti Pojok Carita harus terus hidup dan berkembang,” tambahnya.
Sementara itu, perwakilan Manajemen Kiara Artha Park, Arif Sutyanegara, menyatakan kebanggaannya karena kawasan yang dikelolanya kini memiliki galeri seni yang terbuka untuk masyarakat.
Ia berharap Pojok Carita dapat menjadi ruang kolaboratif yang mempertemukan seniman, masyarakat, pelajar, akademisi, dan berbagai komunitas kreatif.
“Kami berharap Pojok Carita menjadi wadah bagi para seniman Kota Bandung, Jawa Barat, maupun Nusantara untuk berkarya, berkolaborasi, sekaligus mengedukasi masyarakat bahwa seni merupakan bagian penting dari kehidupan,” ujarnya.
Keberadaan galeri tersebut juga mendapat apresiasi dari kalangan seniman. Salah satunya datang dari seniman sekaligus jurnalis, Tian Bahtiar, yang menilai Pojok Carita memberikan kesempatan berharga bagi para pelaku seni untuk menampilkan karya mereka tanpa terbebani biaya penyelenggaraan yang sering menjadi kendala.
Menurut Tian, ruang pamer yang terbuka dan ramah seniman menjadi kebutuhan penting di tengah perkembangan industri kreatif yang semakin kompetitif.
“Sebagai pekerja seni, kami membutuhkan ruang untuk menampilkan karya. Di era industri seperti sekarang, kesempatan untuk berpameran tidak selalu mudah. Karena itu kami sangat mengapresiasi hadirnya Pojok Carita,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa meskipun perkembangan teknologi digital semakin pesat, ruang pamer fisik tetap memiliki fungsi yang tidak tergantikan.
Interaksi langsung antara karya seni dan masyarakat, menurutnya, menciptakan pengalaman yang lebih mendalam dibandingkan hanya melihat karya melalui layar digital.
Dalam pameran tersebut, Tian menampilkan berbagai karya yang mengangkat tema satwa dan lingkungan. Selain itu, ia juga memperkenalkan sejumlah program edukatif bagi anak-anak yang akan dikembangkan melalui Pojok Carita.
Program tersebut meliputi kegiatan *summer camp*, kelas berkebun, melukis gerabah, hingga kelas memasak yang dirancang untuk menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan, seni, dan kreativitas sejak usia dini.
Dukungan juga datang dari seniman dan akademisi Warli Haryana. Ia mengaku kehadiran galeri seni di ruang publik merupakan impian yang telah lama dinantikannya sejak menetap di Bandung pada awal 1990-an.
Menurut Warli, keberadaan ruang seni yang inklusif sangat penting dalam menciptakan generasi kreatif baru yang mampu berkontribusi terhadap perkembangan budaya dan ekonomi kreatif.
“Seni bukan hanya soal memamerkan karya, tetapi juga menjadi sarana ekspresi diri, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi kreatif,” ujarnya.
Ia berharap Pojok Carita tidak hanya berfungsi sebagai tempat pameran, tetapi juga berkembang menjadi pusat kolaborasi, edukasi, rekreasi, dan pengembangan industri kreatif.
“Galeri ini jangan hanya menjadi tempat pameran, tetapi juga ruang kolaborasi, edukasi, rekreasi, dan pengembangan industri kreatif. Dengan begitu manfaatnya dapat dirasakan oleh semua pihak,” katanya.
Lebih jauh, Warli berharap galeri tersebut mampu menjadi titik temu para seniman dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara untuk saling bertukar ide, pengalaman, dan inspirasi.
Dengan hadirnya Pojok Carita, Kota Bandung kembali menambah ruang kreatif yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Keberadaan galeri ini tidak hanya memperkaya ekosistem seni kota, tetapi juga memperkuat posisi Bandung sebagai salah satu pusat kreativitas, budaya, dan industri kreatif terkemuka di Indonesia.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, Pojok Carita diharapkan menjadi ruang yang mampu menjaga interaksi langsung antara karya seni, seniman, dan publik, sekaligus melahirkan berbagai kolaborasi kreatif yang memberikan manfaat sosial, budaya, dan ekonomi bagi masyarakat luas.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!