Pemprov Jatim Perkuat Langkah JFC Menuju Panggung Pariwisata Dunia 27 Jul 2026 Kemenpar Tegaskan JFC Jadi Etalase Pariwisata Indonesia di Mata Dunia 27 Jul 2026 VISI | Sibuk 27 Jul 2026 Dari YouTube ke Timnas Malaysia, Mimpi Wan Kuzain Akhirnya Jadi Nyata 27 Jul 2026 Indonesia Bidik Awal Sempurna, Hadapi Kamboja di Laga Perdana ASEAN Hyundai Cup 2026 27 Jul 2026 Trailer Tabrak Dua Truk dan Motor di Pasuruan, Empat Tewas 27 Jul 2026 Fauzi Amro: DPR Siap Jalankan Fit and Proper Test Calon Gubernur BI 27 Jul 2026 Sistem Eror BPN Bandung Dikeluhkan Warga, Dinilai Buka Celah Praktik Pungli 27 Jul 2026 200 Personel Gabungan Siaga Pascabentrokan Maut di Menteng 27 Jul 2026 Senator Lia Istifhama Desak Polisi Tutup Tambang Pasir Ilegal di Blitar 27 Jul 2026 Pemprov Jatim Perkuat Langkah JFC Menuju Panggung Pariwisata Dunia 27 Jul 2026 Kemenpar Tegaskan JFC Jadi Etalase Pariwisata Indonesia di Mata Dunia 27 Jul 2026 VISI | Sibuk 27 Jul 2026 Dari YouTube ke Timnas Malaysia, Mimpi Wan Kuzain Akhirnya Jadi Nyata 27 Jul 2026 Indonesia Bidik Awal Sempurna, Hadapi Kamboja di Laga Perdana ASEAN Hyundai Cup 2026 27 Jul 2026 Trailer Tabrak Dua Truk dan Motor di Pasuruan, Empat Tewas 27 Jul 2026 Fauzi Amro: DPR Siap Jalankan Fit and Proper Test Calon Gubernur BI 27 Jul 2026 Sistem Eror BPN Bandung Dikeluhkan Warga, Dinilai Buka Celah Praktik Pungli 27 Jul 2026 200 Personel Gabungan Siaga Pascabentrokan Maut di Menteng 27 Jul 2026 Senator Lia Istifhama Desak Polisi Tutup Tambang Pasir Ilegal di Blitar 27 Jul 2026

PMI Asal Kebumen Tewas Ditikam Sesama WNI di Jepang

ED
PN
Senin, 8 Juni 2026 | 07:12 WIB
Bagikan
PMI Asal Kebumen Tewas Ditikam Sesama WNI di Jepang

VISI NEWS | HOKKAIDO – Tragedi berdarah yang melibatkan sesama warga negara Indonesia (WNI) mengguncang Kota Chitose, Prefektur Hokkaido, Jepang. Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) bernama Sri Rahayu (21) tewas setelah ditikam oleh pria sesama WNI berinisial MA atau Mahmudi Agung Laksana Aji (27) pada Kamis malam, 4 Juni 2026.

Peristiwa memilukan tersebut terjadi sekitar pukul 21.10 waktu setempat di sebuah jalan yang berjarak sekitar dua kilometer barat laut Stasiun JR Chitose. Kasus ini tidak hanya menewaskan seorang PMI muda asal Kebumen, Jawa Tengah, tetapi juga menyebabkan seorang polisi Jepang dan seorang WNI lainnya mengalami luka saat proses penangkapan pelaku.

Kasus ini terungkap setelah layanan darurat menerima laporan dari seorang pejalan kaki yang melihat seorang pria membawa pisau dapur di trotoar Kota Chitose.

Saat petugas kepolisian tiba di lokasi, mereka menemukan Sri Rahayu dalam kondisi kritis dengan sejumlah luka tusukan, termasuk di bagian perut. Korban segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.

Namun, nyawa perempuan berusia 21 tahun itu tidak dapat diselamatkan. Ia dinyatakan meninggal dunia tidak lama setelah tiba di rumah sakit.

Korban Merupakan PMI Sektor Peternakan

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo mengonfirmasi bahwa korban merupakan pekerja migran Indonesia yang bekerja secara resmi di sektor peternakan di Chitose, Hokkaido.

Dalam keterangan resminya, KBRI Tokyo menyebut Sri Rahayu telah bekerja di Jepang sebagai tenaga kerja migran dan menetap di distrik Fuji 3-chome, Kota Chitose.

Kabar kematiannya sontak mengundang duka mendalam dari keluarga, sahabat, hingga komunitas pekerja migran Indonesia di Jepang.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengungkapkan bahwa pelaku penikaman juga merupakan warga negara Indonesia berinisial MALA atau MA.

Pelaku diketahui berusia 27 tahun, bekerja sebagai karyawan paruh waktu, dan berdomisili di Prefektur Chiba.

Setelah ditangkap polisi, pelaku disebut mengakui perbuatannya.

Dalam pemeriksaan awal, ia bahkan mengakui bahwa penikaman dilakukan dengan tujuan menghilangkan nyawa korban.

Pengakuan tersebut kini menjadi salah satu dasar penyidik Jepang untuk mengembangkan kasus ke arah dakwaan pembunuhan.

Polisi dan WNI Lain Ikut Terluka

Penangkapan pelaku berlangsung tidak mudah. Kepolisian Chitose mengungkapkan bahwa pelaku sempat melakukan perlawanan.

Akibatnya, seorang polisi Jepang mengalami luka sayatan pada tangan dan kaki saat berusaha melumpuhkan tersangka.

Selain itu, seorang WNI lain yang berada di lokasi juga mengalami luka dan harus mendapatkan perawatan medis.

Dua pisau dapur ditemukan di sekitar lokasi kejadian dan kini menjadi barang bukti utama dalam penyelidikan.

Penyidik Jepang meyakini bahwa korban dan pelaku memiliki hubungan atau setidaknya saling mengenal sebelum insiden tersebut terjadi.

Sejumlah laporan media Jepang menyebut pelaku diduga merupakan mantan kekasih korban. Namun hingga kini, kepolisian belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai hubungan keduanya.

Motif penyerangan masih terus didalami oleh aparat Kepolisian Chitose.

Penyidik tengah memeriksa latar belakang hubungan korban dan pelaku, komunikasi di antara keduanya, serta kemungkinan adanya konflik pribadi yang memicu aksi kekerasan tersebut.

KBRI Tokyo Dampingi Keluarga Korban

KBRI Tokyo menyatakan telah berkoordinasi secara intensif dengan Kepolisian Chitose, pihak rumah sakit, keluarga korban, serta berbagai pihak terkait lainnya.

Selain memastikan proses hukum berjalan sesuai ketentuan Jepang, KBRI juga memberikan pendampingan konsuler kepada keluarga korban dan memantau perkembangan kasus secara langsung.

Pelaku saat ini telah ditahan oleh Kepolisian Chitose dan masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Duka untuk Ayu, PMI yang Gigih Mengejar Mimpi

Kepergian Sri Rahayu meninggalkan luka mendalam bagi banyak orang yang mengenalnya.

Perempuan yang akrab disapa Ayu itu berasal dari Kebumen, Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai sosok pekerja keras yang memiliki tekad kuat untuk bekerja di Jepang demi memperbaiki masa depan.

Menurut sejumlah kenalannya, perjalanan Ayu menuju Jepang tidaklah mudah. Ia harus melalui proses pelatihan dan berbagai tahapan seleksi sebelum akhirnya berhasil bekerja di Hokkaido.

Ungkapan duka pun membanjiri media sosial setelah kabar kematiannya tersebar luas. Salah satu mantan pengajarnya di lembaga pelatihan kerja mengungkapkan kesedihan mendalam atas kepergian Ayu yang disebut sebagai salah satu murid pertama yang berhasil berangkat bekerja ke Jepang.

Kini, keluarga korban menanti keadilan atas tragedi yang merenggut nyawa perempuan muda yang tengah berjuang meraih masa depan di negeri orang tersebut.

Kasus ini sekaligus menjadi perhatian serius bagi komunitas pekerja migran Indonesia di Jepang, mengingat pelaku dan korban sama-sama merupakan WNI yang bekerja dan tinggal jauh dari tanah air. Polisi Jepang masih terus menyelidiki motif di balik pembunuhan tersebut sambil menyiapkan proses hukum terhadap tersangka.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.