PKS Yakin Anies - Muhaimin Raih 55 Persen Suara di Jawa Barat
“Tapi para pendukung yang memilih di 2019 masih sangat ingat bahwa mereka itu dulu habis-habisan (berjuang) ingin Prabowo menggantikan Jokowi. Eh, Prabowonya malah bergabung ke (Pemerintahan) Jokowi,” ungkap anak cicit pendiri NU K.H. Hasyim Asy’ari dari jalur ibu yang akrab disapa Gus Ahad ini.
Sementara kelompok nasionalis terfragmentasi ke pendukung Ganjar-Mahfud MD dan Prabowo-Gibran, menurutnya, Anies-Muhaimin diuntungkan dengan soliditas pemilih muslim. Selain diperkuat PKS yang menjadi semacam representasi politik umat Islam seperti warga NU – Muhammadiyah di Jabar, juga diperkuat PKB. Massa PKB ini tidak pernah tersentuh partai berlambang bulan sabit dan padi ini sebelumnya.
“Yaitu kalangan nahdliyin yang orientasi politiknya PKB. Kantong-kantongnya seperti di Kabupaten Cirebon. PKB Kuat. Ketua DPRD-nya dari PKB itu,” imbuh cucu K.H. Machfudz Anwar (1912-1999) yang pernah menjabat Ketua Lajnah Falakiyyah PBNU ini.
Selain dari massa pendukung PKS, PKB, dan juga massa NasDem yang merupakan partai nasionalis, keunggulan duet AMIN ini tentu tidak lepas dari sosok Anies Baswedan sendiri. Warga Jawa Barat suka dengan sosok Anies. Di samping mereka merasa Anies juga urang Sunda karena lahir di Kuningan dan mengerti bahasa Sunda, pun disebabkan faktor kedekatan geografis dan rasionalitas warga Jabar.
Menurutnya, keberhasilan Anies memimpin Jakarta tersosialiasi dengan baik kepada warga Jabar. Hal ini semakin membuat warga provinsi yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta di wilayah barat ini kian cocok dengan mantan Mendikbud yang pernah menjadi Rektor Universitas Paramadina tersebut.
“Ini yang membuat elektabilitas Anies tinggi di Jawa Barat. Jadi nanti Anies-Muhaimin bisa dapat 55 persen, Prabowo-Gibran 30 persen, dan Ganjar-Mahfud 15 persen. Kira-kira begitu prediksinya,” demikian tandasnya.
@mpa/kba
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!