Pilih Empati daripada Proses Hukum, Fiersa Besari Cabut Laporan Demi Ketenangan Keluarga
“Apa ujung dari memperpanjang urusan pelaporan? Penyitaan kendaraan, dan kami harus bolak-balik berurusan dengan pihak berwajib,” ujarnya.
Fiersa juga menilai bahwa proses hukum belum tentu memberikan efek jera, bahkan bisa memunculkan rasa dendam di kemudian hari. Ia menegaskan bahwa keputusan mencabut laporan merupakan langkah paling ideal bagi keluarganya saat ini.
“Hasil akhirnya bukan memberi efek jera, melainkan memberi efek dendam. Dan tetap saja, Aqia sebagai korban belum tentu mendapatkan ganti rugi secara materi. Solusi ini mungkin tidak ideal untuk semua orang, tapi ini paling ideal untuk kami,” tulis Fiersa.
Di tengah situasi tersebut, Fiersa mengakui dirinya berusaha keras menahan emosi. Ia tidak menampik sempat hampir terpancing amarah saat melihat respons penabrak setelah kejadian.
“Saya beberapa kali hampir berkata kasar. Saya sempat kelepasan bilang, ‘Ini bukan soal uang. Bapak berhadapan dengan orang yang salah,’” ungkapnya.
Namun, Fiersa mengaku ditenangkan oleh sang manajer yang mengingatkannya akan risiko bertindak emosional, terutama jika kejadian tersebut terekam dan tersebar di media sosial.
“Kalau sampai terekam dan dipotong tanpa konteks, takutnya malah disangka abuse of power atau semena-mena terhadap orang kurang mampu. Maka, tindakan terbaik adalah bersabar, meskipun geramnya bukan main,” tuturnya.
Saat ini, Fiersa dan keluarga memilih fokus pada pemulihan Aqia. Berdasarkan hasil pemeriksaan rontgen, tidak ditemukan retakan pada kaki sang istri, meskipun proses penyembuhan diperkirakan membutuhkan waktu cukup lama.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!