Perusahaan Merek Dunia Gagal Hentikan Deforestasi & Pelanggaran HAM di 2025
VISI.NEWS | BANDUNG - Perusahaan merk konsumen dunia masih gagal memenuhi janji publik mereka untuk menghilangkan deforestasi dan pelanggaran hak asasi manusia dari rantai pasokan mereka. Laporan penilaian "Keep Forests Standing" tahun 2025 dari Rainforest Action Network mengungkapkan usaha yang lambat dan tidak memadai dari perusahaan merek-merek paling berpengaruh di dunia.
Padahal perusahaan-perusahaan ini harus mempersiapkan diri untuk implementasi penuh peraturan Uni Eropa tentang produk bebas deforestasi (EUDR), banyak perusahaan merek telah membuat komitmen untuk meyakinkan investor bahwa perusahaan akan mematuhi peraturan tersebut. Lemahnya penerapan komitmen ini dikarenakan, perusahaan-perusahaan tersebut hanya mengandalkan skema sertifikasi yang tidak efektif seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) atau mekanisme pelaporan mandiri dari pemasok yang secara historis bermasalah.
Kondisi ini menjadikan beberapa perusahaan merek terbesar di dunia tetap berisiko terhubung dengan praktik deforestasi dan pelanggaran hak asasi manusia. “Perusahaan-perusahaan merek dunia telah berjanji untuk memenuhi komitmen rantai pasok bebas deforestasi sebagai antisipasi terhadap regulasi baru. Namun, sebelum hutan-hutan dihancurkan, masyarakat yang tinggal di hutan-hutan tersebut sering menghadapi kekerasan dan intimidasi atau perampasan lahan. Perusahaan-perusahaan ini harus mengambil tindakan nyata melindungi hak-hak masyarakat di seluruh rantai pasok mereka,” kata Daniel Carrillo, Direktur Kampanye Hutan, Rainforest Action Network dalam rilisnya kepada VISI.NEWS, Selasa (30/12/2025)
“Perusahaan-perusahaan ini menyadari keterbatasan mereka yang hanya mengandalkan skema sertifikasi. Mereka sebetulnya tahu skema-skema ini tidak lantas menghilangkan jejak deforestasi dan melindungi hak asasi manusia — karena RAN telah mempublikasikan bukti-buktinya. Ini bukan masalah kurangnya pengetahuan. Ini adalah masalah kurangnya kepemimpinan. Hilangnya kemauan untuk mengubah komitmen menjadi tindakan dan menjadikan perlindungan manusia dan hutan sebagai hal yang tidak dapat dinegosiasikan.”
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!