Perubahan Populasi Asia: Dampaknya pada Sektor Properti Thailand
- Proud Real Estate Plc telah mengidentifikasi tiga tren utama yang mengubah pasar properti Thailand: hunian multigenerasi, gaya hidup semi-pensiun, dan hibridisasi perhotelan-hunian.
- Tren-tren ini didorong oleh pergeseran demografi, termasuk peningkatan populasi lansia Thailand dan meningkatnya popularitas pariwisata rumah kedua.
- Proud Real Estate beradaptasi dengan perubahan ini dengan proyek-proyek inovatif seperti VEHHA Hua Hin dan ROMM Convent, yang memadukan hunian mewah dengan elemen perhotelan dan kebugaran.
VISI.NEWS | BANGKOK - Sektor properti Thailand, yang diperkirakan bernilai US$2 triliun, berada di ambang transformasi signifikan, didorong oleh tiga megatren yang sedang berkembang: hunian multigenerasi, semi-pensiun, dan hibridisasi perhotelan-hunian. Tren-tren ini, yang diidentifikasi oleh Proud Real Estate Plc, pemimpin pasar properti yang terdaftar di SET, akan mendefinisikan ulang lanskap sebagai respons terhadap perubahan demografi dan semakin populernya pariwisata rumah kedua.
Proudputh Liptapanlop, Direktur Proud Real Estate Plc, menekankan dampak signifikan dari perubahan demografi pada sektor real estat. Thailand mengalami pertumbuhan populasi yang lambat dan peningkatan proporsi warga lanjut usia, dengan populasi di atas 60 tahun meningkat dua kali lipat dari 10% pada tahun 2005 menjadi 20% pada tahun 2023. Menurut laporan Populasi Dunia PBB, Thailand saat ini diklasifikasikan sebagai masyarakat lanjut usia dan diproyeksikan akan menjadi "masyarakat super-lansia" pada tahun 2029, dengan 20% populasi berusia di atas 65 tahun. Perubahan demografi ini, ditambah dengan tantangan ekonomi seperti 'jebakan pendapatan menengah', telah melemahkan daya beli segmen pasar utama seperti generasi milenial dan Gen Z. Akibatnya, sektor pengembangan properti menghadapi tantangan baru dalam beradaptasi dengan kondisi pasar yang terus berkembang ini.
Meskipun menghadapi rintangan ini, sektor real estat tetap menjadi pendorong penting ekonomi Thailand, berkontribusi sekitar 10% terhadap PDB. Ibu Proudputh tetap optimis, melihat tantangan ini sebagai peluang untuk berinovasi dan beradaptasi. Dia membayangkan megatren ini sebagai titik balik yang dapat mengarah pada pasar yang direvitalisasi, memposisikan sektor tersebut untuk bangkit kembali yang memanfaatkan krisis menjadi prospek transformatif.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!