Pers Mahasiswa Didorong Makin Kuat dan Merdeka
Neni mengingatkan aktivis persma agar memahami hak sekaligus risiko dalam menjalankan kegiatan jurnalistik. Menurutnya, peningkatan pengetahuan, pemahaman hukum, kapasitas jurnalistik, serta penguatan jejaring menjadi bagian penting untuk memitigasi risiko tersebut.
UNESCO Dorong Literasi Digital Persma
Penguatan pers mahasiswa juga dilakukan melalui peningkatan literasi media dan informasi. Associate Project Officer Kantor UNESCO Jakarta, Yekthi Hesthi Murthi, memperkenalkan panduan literasi media dan informasi UNESCO melalui program MILtivers.
Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan kompetensi pengguna aktif ruang digital, termasuk organisasi kepemudaan, dalam merespons berbagai dinamika di ruang digital.
Dalam pelatihan, Hesti memaparkan bagaimana panduan MILtivers dapat digunakan persma untuk berkontribusi menciptakan ruang digital yang demokratis sekaligus menekan penyebaran disinformasi, misinformasi, dan ujaran kebencian.
Pengenalan tersebut akan dilanjutkan dengan pelatihan daring sebagai bagian dari dukungan UNESCO melalui program Social Media 4 Peace yang didanai Uni Eropa.
Survei: Persma Masih Bergantung pada Kampus
Konferensi juga menjadi momentum pemaparan hasil survei pemetaan awal kondisi pers mahasiswa. Survei yang dilakukan secara daring pada 10-28 Agustus 2026 melibatkan 95 responden. Sebanyak 82 responden atau 86,3 persen di antaranya merupakan aktivis persma.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!