Perang AS-Iran Masuk Babak "Berbahaya"
VISI.NEWS – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak yang lebih berbahaya setelah kedua negara saling melancarkan serangan terhadap fasilitas militer, infrastruktur energi, hingga jalur logistik di kawasan Teluk. Serangan terbaru bahkan memicu kebakaran di Kuwait, melukai sejumlah petugas pemadam kebakaran, serta meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap potensi eskalasi perang yang lebih luas.
Di tengah meningkatnya intensitas pertempuran, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengeluarkan peringatan keras kepada Washington. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada Sabtu, Khamenei menegaskan bahwa Amerika Serikat akan menerima "pelajaran yang tak akan terlupakan" apabila terus melanjutkan serangan terhadap Iran.
Khamenei juga menyatakan bahwa tanda tangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada kesepakatan sementara yang ditandatangani sekitar satu bulan lalu sudah tidak lagi memiliki nilai hukum.
Pernyataan tersebut muncul setelah seorang negosiator Iran mengumumkan bahwa Teheran menangguhkan seluruh komitmennya terhadap perjanjian sementara yang sebelumnya disepakati kedua negara. Kesepakatan itu semula dimaksudkan sebagai langkah awal untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari empat bulan.
"Iran dan poros perlawanan memiliki pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan bagi Amerika Serikat," demikian isi pernyataan Khamenei.
Sementara itu, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pihaknya kembali melancarkan serangan udara untuk malam ketujuh secara berturut-turut.
Menurut CENTCOM, sasaran operasi meliputi fasilitas pengawasan, infrastruktur logistik militer, gudang senjata bawah tanah, serta kemampuan maritim Iran yang dinilai berperan dalam operasi di Selat Hormuz.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah di kawasan Teluk.
Kuwait menjadi salah satu negara yang terdampak. Pemerintah Kuwait menyatakan berhasil mencegat sejumlah rudal dan pesawat nirawak Iran, namun salah satu serangan tetap menghantam fasilitas desalinasi air dan memicu kebakaran.
Insiden tersebut merupakan serangan kedua dalam dua hari terakhir terhadap fasilitas penyedia air bersih di negara gurun itu. Sekitar 90 persen kebutuhan air minum Kuwait bergantung pada instalasi desalinasi.
Selain itu, dua kebakaran lain yang dipicu serangan Iran menyebabkan beberapa petugas pemadam kebakaran dan seorang pekerja mengalami luka-luka saat melakukan proses pemadaman.
Pasukan Pemadam Kebakaran Kuwait menyatakan seluruh personel dikerahkan untuk menangani kebakaran yang terjadi di dua lokasi berbeda akibat serangan tersebut.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Kuwait juga menghentikan sementara operasi sejumlah unit pembangkit listrik serta sempat menutup wilayah udaranya karena ancaman rudal.
Maskapai Kuwait Airways turut menjadwal ulang sebagian besar penerbangan dari dan menuju ibu kota Kuwait City.
Dampak konflik juga dirasakan negara-negara lain di kawasan.
Pemerintah Irak mengumumkan berhasil menembak jatuh sejumlah drone yang terbang di atas Kota Irbil.
Yordania menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat tiga rudal Iran yang mengarah ke wilayah kerajaan tersebut.
Sementara itu, Bahrain beberapa kali membunyikan sirene peringatan serangan udara sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi ancaman rudal.
Di sisi lain, Iran juga terus mengalami kerusakan infrastruktur akibat serangan udara Amerika Serikat.
Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa serangan terbaru menghantam pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi di Provinsi Hormozgan, wilayah pesisir yang berada di tepi Selat Hormuz.
Serangan juga dilaporkan merusak dua terowongan dan sebuah jembatan yang menjadi bagian dari jalur utama menuju Bandar Abbas, pelabuhan terbesar Iran yang memiliki posisi strategis di kawasan tersebut.
Selain Bandar Abbas, Pulau Qeshm yang berada di Selat Hormuz juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Sebelumnya, media pemerintah Iran melaporkan Amerika Serikat menyerang jalan raya dan jembatan rel kereta api yang menghubungkan Bandar Abbas dengan wilayah tengah Iran hingga menuju ibu kota Teheran.
Untuk pertama kalinya sejak konflik berlangsung, Kementerian Energi Iran mengakui bahwa serangan Amerika telah mengenai infrastruktur kelistrikan. Pemerintah bahkan meminta masyarakat di provinsi-provinsi selatan untuk menghemat penggunaan listrik di tengah cuaca yang sangat panas.
Menurut otoritas Iran, sedikitnya 46 orang tewas dan lebih dari 400 lainnya terluka akibat gelombang serangan terbaru Amerika Serikat. Delapan korban meninggal dilaporkan berasal dari serangan terhadap sebuah jembatan pada Jumat.
Di pihak Amerika Serikat, militer mengonfirmasi adanya tambahan 13 personel yang mengalami luka-luka dalam beberapa hari terakhir, terdiri atas 10 prajurit Angkatan Darat dan tiga personel Angkatan Laut.
Sejak perang dimulai pada 28 Februari, Amerika Serikat mencatat 14 personel militer tewas dan 427 lainnya terluka.
Selat Hormuz tetap menjadi pusat konflik yang memicu ketegangan global.
Sejak perang dimulai, Iran secara efektif membatasi lalu lintas pelayaran di jalur strategis tersebut. Teheran bahkan menegaskan bahwa Selat Hormuz harus berada di bawah kendali penuh Iran dan kapal-kapal asing wajib membayar biaya kepada pemerintah Iran, meski masyarakat internasional selama puluhan tahun menganggap jalur tersebut sebagai perairan internasional.
Penutupan jalur pelayaran menyebabkan lalu lintas kapal menurun drastis.
Data pelacakan pelayaran internasional menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi hanya delapan kapal dalam sehari, angka terendah dalam tiga pekan terakhir.
Gangguan distribusi energi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia yang sempat menembus lebih dari 86 dolar Amerika Serikat per barel, mendekati level tertinggi dalam satu bulan terakhir.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi konflik yang kini mulai menyasar infrastruktur sipil dan fasilitas vital.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mendesak semua pihak menahan diri dan menghentikan serangan terhadap fasilitas sipil demi mencegah memburuknya situasi kemanusiaan di kawasan.
Sementara itu, penasihat militer Iran Mohsen Rezaei memperingatkan bahwa negaranya siap meningkatkan operasi militer secara penuh apabila serangan Amerika Serikat terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Menurutnya, Iran tidak lagi akan membatasi diri hanya pada serangan balasan yang setara.
Komandan Pasukan Dirgantara Garda Revolusi Iran, Majid Mousavi, juga menegaskan operasi militer akan terus dilakukan hingga Amerika Serikat menghentikan serangan terhadap wilayah pesisir Iran dan kawasan sekitar Selat Hormuz.
Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah negara masih berupaya mendorong penyelesaian diplomatik.
China dan Pakistan kembali menyerukan agar Washington dan Teheran segera menghentikan aksi militer serta kembali ke meja perundingan. Namun hingga kini belum terlihat adanya tanda-tanda kedua pihak siap mengurangi eskalasi konflik.
Pengamat Timur Tengah dari Jean-Jaurès Foundation, David Khalfa, menilai konflik kini semakin meluas karena semakin banyak infrastruktur strategis yang menjadi sasaran.
Menurutnya, meski kedua pihak sebenarnya tidak memiliki kepentingan strategis untuk memperpanjang perang, masing-masing masih memandang setiap bentuk kompromi sebagai tanda kekalahan, sehingga peluang tercapainya perdamaian dalam waktu dekat masih sangat kecil.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!