Pentahelix Jadi Kunci Mengatasi Banjir, Pecahkan Kebuntuan 30 Tahun, Saluran Cipalasari Akhirnya Dikeruk
Visi.News/Ist.
VISI NEWS | KABUPATEN BANDUNG- Upaya penanganan banjir di wilayah Jalan Raya dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, mulai menunjukkan hasil nyata. Melalui kolaborasi lintas sektor yang tergabung dalam Forum Pentahelix, berbagai persoalan yang selama ini menjadi penyebab banjir perlahan berhasil diatasi, salah satunya melalui pengerukan Saluran Irigasi Cipalasari yang telah puluhan tahun tidak tersentuh perbaikan.
Ketua Forum Pentahelix Dayeuhkolot, Tri Rahmanto, menjelaskan bahwa Pentahelix merupakan wadah kolaborasi yang diinisiasi oleh Bupati Bandung untuk menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan daerah secara bersama-sama.
"Di dalamnya ada unsur pemerintah, masyarakat, perusahaan, akademisi, dan media. Semua duduk bersama menyatukan visi untuk mencari solusi dari berbagai persoalan yang ada, termasuk masalah banjir," ujarnya.
Menurut Tri, pendekatan kolaboratif tersebut mulai membuahkan hasil. Jika sebelumnya wilayah terdampak banjir mencapai sekitar 90 persen, kini intensitasnya berhasil ditekan hingga sekitar 50 persen. Upaya penanganan pun akan terus dilakukan secara bertahap hingga dampak banjir dapat diminimalkan semaksimal mungkin.
Salah satu program yang menjadi perhatian adalah penanganan Saluran Irigasi Cipalasari. Meski kerap disebut sungai oleh masyarakat, jalur air tersebut sebenarnya merupakan saluran irigasi yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama genangan dan banjir di kawasan Jalan Raya Dayeuhkolot.
Berdasarkan hasil mitigasi yang dilakukan tim Pentahelix, saluran tersebut diketahui mengalami sedimentasi cukup parah akibat tidak pernah dilakukan pengerukan selama kurang lebih 30 tahun.
"Ini menjadi sejarah baru. Selama tiga dekade saluran ini belum pernah dikeruk. Baru sekarang bisa direalisasikan," kata Tri.
Temuan tersebut kemudian disampaikan kepada Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Barat. Respons positif pun datang dari pemerintah provinsi dengan mengalokasikan pengerukan sepanjang 2,5 kilometer. Dari total panjang tersebut, satu kilometer dikerjakan menggunakan alat berat dan sisanya secara manual.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!