Pelatihan Literasi Digital dan Jurnalistik: Teguh Purwayadi Soroti Darurat Judol dan Hoaks
Berdasarkan data ekologi dan koordinasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Teguh menyebut terdapat sekitar 214 ribu hingga 209 ribu data yang terdeteksi masuk dalam ekosistem digital yang rawan.
"Ketika data itu sudah ada, untuk apa? Apakah kita hanya melihat dan mengatakan 'oh tahun ini turun sekian juta'? Tidak. Yang paling penting adalah apa aksi nyata yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan masyarakat yang terkena dampak judi online dan pinjol ini," ujar Teguh di hadapan para peserta.
Selain judi online dan pinjaman online (pinjol) ilegal, Teguh menyoroti indeks literasi membaca masyarakat Indonesia yang masih memprihatinkan.
Ia menyebut Indonesia berada di peringkat ke-62 dari 63 negara di dunia dalam hal minat baca.
Menurut Teguh, rendahnya indeks literasi tersebut berbanding terbalik dengan cepatnya perkembangan teknologi informasi. Kondisi itu membuat masyarakat rentan menerima informasi tanpa melakukan konfirmasi maupun menyaring kebenaran berita yang diterima.
"Hal inilah yang memicu suburnya penyebaran disinformasi dan hoaks di tengah publik," katanya.
Untuk menghadapi persoalan tersebut, Diskominfo Kabupaten Bandung menggandeng PWI serta mengundang perwakilan komunitas perempuan dan pihak sekolah untuk membangun ekosistem digital yang sehat.
Teguh mengungkapkan, Diskominfo juga tengah merancang program khusus penanganan risiko digital berbasis komunitas perempuan yang diposisikan sebagai garda terdepan keluarga.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!