Pelatihan Literasi Digital dan Jurnalistik: Teguh Purwayadi Soroti Darurat Judol dan Hoaks
VISI.NEWS - Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo) Kabupaten Bandung, Teguh Purwayadi, menekankan pentingnya penguatan literasi digital dan jurnalistik warga di tengah meningkatnya ancaman patologi sosial digital.
Hal tersebut disampaikan Teguh dalam pelatihan Literasi Digital dan Jurnalistik Warga yang berlangsung di Gedung Mohamad Toha, Kompleks Pemkab Bandung, Soreang, Rabu (16/9/2026).
Pelatihan tersebut mengusung tema 'Membangun Informasi Masyarakat yang Cerdas dan Beretika di Kabupaten Bandung' dengan program 'Sadar Digital (Sinergi Adaptif dalam Resiliensi Digital)'.
Kegiatan diikuti wartawan yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bandung, Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), karang taruna, dan bunda literasi. Kegiatan tersebut juga menghadirkan narasumber dari PWI Kabupaten Bandung dan KIM.
Dalam kesempatan tersebut, Teguh mengungkapkan data terkait aktivitas judi online (judol) di Indonesia yang menurutnya cukup mengejutkan.
Secara nasional, perputaran uang judi online disebut melesat tajam dari di atas Rp200 triliun pada 2024 dan kemudian mengalami peningkatan hingga Rp100 triliun pada 2025.
Di tingkat lokal, dampak fenomena tersebut juga dinilai mengkhawatirkan. Pada 2024, tercatat sekitar 182.000 pengguna judi online di wilayah Kabupaten Bandung.
Menurut Teguh, angka tersebut terus bergerak dinamis. Data terkini juga menunjukkan potensi keterlibatan masyarakat umum hingga Aparatur Sipil Negara (ASN).
Berdasarkan data ekologi dan koordinasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Teguh menyebut terdapat sekitar 214 ribu hingga 209 ribu data yang terdeteksi masuk dalam ekosistem digital yang rawan.
"Ketika data itu sudah ada, untuk apa? Apakah kita hanya melihat dan mengatakan 'oh tahun ini turun sekian juta'? Tidak. Yang paling penting adalah apa aksi nyata yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan masyarakat yang terkena dampak judi online dan pinjol ini," ujar Teguh di hadapan para peserta.
Selain judi online dan pinjaman online (pinjol) ilegal, Teguh menyoroti indeks literasi membaca masyarakat Indonesia yang masih memprihatinkan.
Ia menyebut Indonesia berada di peringkat ke-62 dari 63 negara di dunia dalam hal minat baca.
Menurut Teguh, rendahnya indeks literasi tersebut berbanding terbalik dengan cepatnya perkembangan teknologi informasi. Kondisi itu membuat masyarakat rentan menerima informasi tanpa melakukan konfirmasi maupun menyaring kebenaran berita yang diterima.
"Hal inilah yang memicu suburnya penyebaran disinformasi dan hoaks di tengah publik," katanya.
Untuk menghadapi persoalan tersebut, Diskominfo Kabupaten Bandung menggandeng PWI serta mengundang perwakilan komunitas perempuan dan pihak sekolah untuk membangun ekosistem digital yang sehat.
Teguh mengungkapkan, Diskominfo juga tengah merancang program khusus penanganan risiko digital berbasis komunitas perempuan yang diposisikan sebagai garda terdepan keluarga.
Menurutnya, pemerintah membutuhkan kolaborasi berbagai pihak untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai risiko penggunaan teknologi digital.
"Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri untuk menghalau patologi digital ini. Kita butuh kolaborasi seluruh stakeholder untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai risiko digital. Kita harus memastikan teknologi informasi ini memberikan kontribusi yang positif, bukan justru merusak tatanan sosial, ekonomi, dan manusia itu sendiri," pungkasnya. @kos
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!