PASSION | Ada Perempuan Hebat, Muda, Cantik, Kaya Raya, Berdawah di Tanah Jawa 400 Tahun sebelum Wali Songo
Akhirnya saya menepi di warung sambil pesan es teh, soak pokona mah. Info dari pemilik warung truk balapan karena rebutan kontainer di pelabuhan atau gudang. Setelah agak mereda truknya, gowes lanjut lagi sampai melewati jembatan Kali Lamong (perbatasan Surabaya-Gresik) truk-truk kontainer mulai mereda.
Alhamdulillah nyampe juga di Gresik sekitar jam 15.00. Konon nama Gresik berasal dari kata giri gisik, yang berarti gunung di tepi pantai, merujuk pada topografi kabupaten yang berada dipinggir pantai.
Di kota inilah ada dua peristiwa fenomenal dan monumental yaitu kehadiran pendawah perempuan pertama (wafat 1082 M) serta kedatangan walisongo angkatan pertama (tiba 1404 M).
Kedatangan Pertama Walisongo
Di kota ini pula dewan walisongo angkatan pertama (terdiri 9 orang) yg diutus oleh Sultan Muhamad I, dari Kerajaan Islam Turki Ustmani, mendarat pada tahun 1404 M. Tidak berlebihan jika dawah Islam secara "revolusioner" dan damai dimulai dari Gresik dan menyebar ke pelosok Nusantara dan Asia Tenggara. Walisongo angkatan pertama yang dipimpin oleh Maulana Malik Ibrahim/Sunan Gresik. Beliau juga seorang ahli irigasi dan tata negara. Nama lain dari Sunan Gresik adalah Kakek Bantal, Wali Quthub, Sunan Raja Wali, dikenal juga sebagai nenek moyang pertama bagi para wali. Dewan ini tidak hanya menguasai ilmu agama tapi juga pakar dibidang iptek, politik, sosial, ekonomi dan budaya. Selama ini kita hanya mengenal walisongo dengan karomah atau "kesaktian" nya saja.
Sunan Gresik
Ketika sepeda memasuki sekitar makam Sunan Gresik, suasana terasa adem, tenang dan resik. Mengingatkan lagi waktu ke tanah suci, diibaratkan kalau suasana Surabaya bagai Makkah (ramai) kalau Gresik bagai Madinah (tenang dan damai). Memasuki area agak sepi. Sepeda diparkir di depan. Ada beberapa penziarah mulai berdatangan. Setelah salat dan ziarah ke makam Sunan Gresik dilanjutkan ke area makam Bupati I Gresik, Kyai Tumenggung Poesponegoro dan saudaranya. Tertulis di pintu masuk beliau adalah Mursyid Thoriqoh Sathoriyah ke-29. Bentuk makam agak unik berbentuk bangunan cungkup, mirip bentuk makam Siti Fatimah binti Maemun.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!