Pasar Properti 2025 Tertekan, Peluang 2026 Menguat
Kondisi ini menegaskan bahwa kedekatan dengan pusat aktivitas kerja menjadi prioritas utama pembeli rumah. Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan bahwa meskipun sektor real estat dan konstruksi melambat sepanjang 2025, sinyal rebound penjualan rumah primer di akhir tahun menunjukkan kebutuhan hunian tetap kuat. Pemulihan ke depan akan sangat ditentukan oleh keterjangkauan harga, kepastian kebijakan, serta akses pembiayaan.
Penyesuaian daya beli juga tercermin dalam pola pembiayaan. Minat terhadap KPR dengan tenor lebih panjang meningkat, sementara rata-rata plafon KPR menurun untuk menjaga cicilan bulanan tetap terjangkau. Bahkan, minat terhadap KPR rumah sekunder kini melampaui rumah primer guna menghindari beban ganda antara cicilan dan biaya sewa pada rumah indent. Skema take over dan top up mendominasi hingga 74% transaksi, mencerminkan strategi mitigasi risiko suku bunga dan optimalisasi arus kas rumah tangga.
Memasuki 2026, pasar properti masih dibayangi dinamika global, mulai dari konflik geopolitik Timur Tengah, perang Rusia–Ukraina, hingga ketegangan AS–China yang memengaruhi rantai pasok dan investasi global. Di dalam negeri, tantangan diperkuat fluktuasi tenaga kerja dan pelemahan IHSG di awal tahun. Namun demikian, Pinhome dan Permata Bank optimistis peluang pemulihan tetap terbuka dengan potensi stabilisasi ekonomi dan membaiknya sentimen pasar.
Optimisme tersebut tercermin dari resiliensi pasar regional. Kota-kota di Sumatera menunjukkan pemulihan cepat, dengan lonjakan indeks permintaan rumah di Kota Palembang (+24%) dan Kota Pekanbaru (+23%) pada Desember 2025 dibanding bulan sebelumnya. Di Jawa Barat, operasional Kereta Cepat Whoosh mendorong pencarian hunian di Cileunyi naik 18% dan Rancaekek melonjak 31%, seiring progres pembangunan Tol Getaci. Sementara itu, kebijakan hilirisasi nikel turut mendongkrak pencarian rumah di Maluku Utara (+11%) dan Sulawesi Tengah (+8%), menandakan munculnya pusat pertumbuhan properti baru di luar kota-kota besar tradisional.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!