Pasar Properti 2025 Tertekan, Peluang 2026 Menguat

ED
Selasa, 17 Februari 2026 | 12:47 WIB
Bagikan
Pasar Properti 2025 Tertekan, Peluang 2026 Menguat

VISI.NEWS | JAKARTA - Semester 2 tahun 2025 menjadi periode penuh dinamika bagi Indonesia. Ketegangan sosial, ekonomi, politik hingga isu lingkungan berdampak langsung terhadap daya beli dan prioritas belanja masyarakat. Kondisi ini membentuk lanskap pasar properti yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Data dari Pinhome menunjukkan konsumen kini lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan besar, terutama dalam pembelian hunian.

Dalam laporan Indonesia Residential Market Report Semester 2 2025 & Outlook 2026, Pinhome mencatat fenomena stagnasi inventori yang cukup signifikan. Rata-rata penambahan inventori rumah baru bulanan turun hingga -14%, mencerminkan penyusutan suplai rumah primer. Situasi ini justru membuka peluang bagi pengembang yang memiliki stok rumah siap huni dalam jumlah besar, terlebih dengan masih berlakunya kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) hingga akhir 2027.

Sebaliknya, pasar rumah sekunder menunjukkan tren berbeda. Rata-rata pertumbuhan inventori rumah seken meningkat +5% per bulan sepanjang Semester 2 2025. Wilayah penyangga DKI Jakarta seperti Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Kota Tangerang Selatan masing-masing menyumbang sekitar 8% dari total penambahan inventori rumah sekunder.

Meningkatnya pasokan rumah seken tak lepas dari tekanan ekonomi nasional. CEO & Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, mengungkapkan bahwa gelombang PHK di berbagai sektor industri serta kenaikan biaya hidup mendorong sebagian pemilik properti melepas aset hunian demi menjaga likuiditas. Fenomena ini diperkuat oleh maraknya label “Butuh Uang (BU)” dan “Jual Cepat” pada berbagai listing properti, bahkan dengan harga di bawah pasar.

Di sisi permintaan, terjadi kontras mencolok antara kawasan industri dan residensial komuter. Kawasan industri seperti Cikarang mencatat pertumbuhan permintaan hingga 16% pada Semester 2 2025 dibandingkan semester sebelumnya, didorong ekspansi sektor manufaktur. Sementara itu, kawasan komuter di Bekasi seperti Tambun mengalami penurunan permintaan hingga -22% dan Cibitung turun -9%.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.