Padat Karya Jadi Harapan, 8.600 Warga Bandung Didorong Tetap Produktif

ED
PN
Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16 WIB
Bagikan
Padat Karya Jadi Harapan, 8.600 Warga Bandung Didorong Tetap Produktif

Puluhan warga dari berbagai kelurahan tampak bersiap dengan perlengkapan kerja masing-masing untuk mengikuti Program Padat Karya Tematik 2026 yang digagas Pemerintah Kota Bandung. /visi.news/ist

VISI NEWS | KOTA BANDUNGSemangat pagi mewarnai halaman Kantor Kecamatan Batununggal, Selasa (9/6/2026). Puluhan warga dari berbagai kelurahan tampak bersiap dengan perlengkapan kerja masing-masing untuk mengikuti Program Padat Karya Tematik 2026 yang digagas Pemerintah Kota Bandung.

Di tengah tantangan ekonomi dan masih tingginya angka pengangguran, program tersebut menjadi harapan baru bagi masyarakat untuk tetap produktif sekaligus memperoleh penghasilan.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, secara langsung melepas para peserta yang berasal dari Kelurahan Maleer, Samoja, Cibangkong, Kebon Gedang, Gumuruh, dan Kacapiring. Ia menegaskan, program padat karya bukan sekadar menyediakan pekerjaan sementara, melainkan menjadi jembatan bagi warga yang masih berupaya keluar dari pengangguran terbuka.

"Total ada sekitar 8.600 peserta padat karya di Kota Bandung tahun ini. Ini menjadi jembatan bagi masyarakat yang masih mencari pekerjaan tetap. Sambil bekerja dan mendapatkan penghasilan, mereka tetap bisa mencari peluang kerja yang lebih permanen," ujar Farhan.

Menurut Farhan, tingkat pengangguran terbuka di Kota Bandung saat ini masih berada pada kisaran 7,2 persen. Karena itu, Pemerintah Kota Bandung terus berupaya membuka akses kerja melalui berbagai strategi, mulai dari program padat karya hingga penyediaan informasi lowongan pekerjaan secara daring maupun luring.

"Pemerintah tidak hanya menyediakan pekerjaan, tetapi juga menyediakan akses dan informasi pekerjaan. Kami ingin menjadi penghubung antara pencari kerja dan dunia usaha sehingga peluang kerja semakin terbuka," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Farhan juga memberikan motivasi kepada para peserta agar tidak menyerah menghadapi keadaan. Ia mengingatkan bahwa produktivitas tidak selalu identik dengan pekerjaan formal.

"Jangan pernah malu selama kita masih bisa bergerak. Artinya kita masih punya harkat dan derajat. Yang penting terus bekerja dan berkarya," tegasnya, disambut tepuk tangan para peserta.

Program Padat Karya Tematik 2026 difokuskan pada kegiatan penanganan lingkungan dan kebersihan wilayah. Selain membantu warga memperoleh tambahan penghasilan, program ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan nyaman.

Peserta program berasal dari beragam latar belakang. Dava (23), mahasiswa semester akhir asal Kelurahan Kacapiring, mengaku tertarik mengikuti program tersebut karena manfaat yang dirasakan masyarakat.

"Program ini sangat membantu warga. Lingkungan jadi lebih bersih dan terawat. Selain itu, warga juga mendapatkan manfaat ekonomi. Semoga program seperti ini terus ada ke depannya," ujarnya.

Hal serupa disampaikan Sri (62), ibu rumah tangga asal Kacapiring. Menurutnya, padat karya menjadi solusi bagi warga yang belum memiliki pekerjaan tetap.

"Program ini bagus untuk masyarakat, terutama yang belum mendapatkan pekerjaan secara mantap. Mudah-mudahan ke depan jumlahnya bisa lebih banyak lagi," katanya.

Sementara itu, Yoga, seorang pengemudi ojek online dari Kelurahan Cibangkong, menilai program tersebut sangat membantu di tengah pendapatan harian yang tidak menentu.

"Kalau narik ojol kan kadang ramai, kadang sepi. Dengan padat karya ini ada tambahan penghasilan yang jelas. Apalagi ada perlindungan BPJS dan asuransi kecelakaan kerja, jadi lebih tenang saat bekerja," ungkapnya.

Ia berharap cakupan program dapat diperluas sehingga semakin banyak warga yang merasakan manfaatnya.

Di tengah berbagai tantangan ekonomi perkotaan, Program Padat Karya Tematik menjadi bukti bahwa upaya mengurangi pengangguran tidak selalu harus dilakukan melalui proyek-proyek besar. Dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam kegiatan kebersihan dan penataan lingkungan, program ini menghadirkan manfaat ganda: menjaga wajah kota tetap bersih sekaligus memberikan penghasilan bagi warga.

Bagi Pemerintah Kota Bandung, padat karya bukan hanya tentang menyapu jalan, membersihkan sungai, atau merapikan lingkungan. Program ini menjadi simbol kehadiran pemerintah di tengah masyarakat, membuka ruang bagi warga untuk tetap produktif, menjaga martabat, serta menatap masa depan dengan lebih optimistis.

"Seluruh warga Kota Bandung harus produktif. Peluang selalu ada bagi mereka yang mau berusaha," pungkas Farhan.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.