Observatorium Bosscha: Jadi Pusat Pemantauan Hilal Setiap Tahunya dan Sejarah Astronomi Indonesia
VISI.NEWS | BANDUNG - Setiap tahun, Observatorium Bosscha menjadi titik pemantauan hilal untuk menentukan awal Ramadan.
Namun, di balik fungsinya yang vital ini, Bosscha menyimpan sejarah panjang dan kontribusi besar bagi dunia astronomi.
Lokasi dan Sejarah Pendirian
Terletak di Jalan Peneropongan Bintang No. 45, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Observatorium Bosscha adalah pusat peneropongan bintang tertua di Indonesia. Pendirian observatorium ini digagas oleh Karel Albert Rudolf (K.A.R.) Bosscha dengan dukungan R.A. Kerkhoven dan astronom Joan George Erardus Gijsbertus Voûte.
Arsiteknya, Wolff Schoemaker, memastikan desain bangunan kokoh, sementara pondasinya dikerjakan oleh De Hollandsche Beton Maatschappij.
Pada 12 September 1920, Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda (Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereniging/NISV) dibentuk dengan tujuan membangun dan mengelola observatorium di Hindia Belanda.
K.A.R. Bosscha menjadi donatur utama dan membeli teleskop dari Jerman. Akhirnya, pada 1 Januari 1923, Observatorium Bosscha resmi beroperasi dan sejak itu menjadi jendela bagi Indonesia untuk mengamati luasnya jagat raya.
Perkembangan dan Kontribusi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!