Nusron Wahid Dorong Budaya Berpikir Kritis di Politeknik Agraria STPN
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid./visi.news/ist.
“Saya sengaja mengambil cara berpikir filosofi untuk membongkar akarnya. Supaya ada konsep-konsep radikal. Kita membongkar tanah untuk menemukan akar. Kita membongkar pikiran supaya tidak ada yang disembunyikan secara politis. Itu intinya,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Rocky juga memaparkan tiga sudut pandang dalam memahami tanah. Bagi masyarakat adat, tanah memiliki makna yang erat dengan kehidupan, nilai magis, serta warisan leluhur.
Sementara dalam perspektif negara, tanah memiliki fungsi sosial yang diwujudkan melalui sistem pengaturan dan hukum. Adapun dalam perspektif korporasi, tanah dipandang sebagai aset ekonomi dan komoditas yang memiliki nilai bisnis.
Kuliah umum ini diikuti jajaran Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, seluruh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi beserta jajaran, serta ratusan Taruna dan Taruni.
Melalui forum tersebut, Kementerian ATR/BPN berharap dunia pendidikan pertanahan tidak hanya mencetak sumber daya manusia yang memahami aspek teknis administrasi pertanahan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir terbuka, kritis, dan mampu memahami persoalan tanah dari berbagai perspektif.
Tradisi dialog dan perdebatan akademik pun diharapkan terus hidup sebagai bagian dari proses membangun pemikiran yang lebih matang, terutama dalam menghadapi kompleksitas persoalan agraria, pertanahan, negara, dan kepentingan masyarakat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!