Nilai Ajaran Rasulullah SAW akan Tetap Abadi
VISI.NEWS | BANDUNG - Pernyataan musisi dan tokoh publik Rhoma Irama yang menyebut kemungkinan hilangnya organisasi besar seperti Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memantik diskusi luas di ruang publik. Ia menekankan bahwa sebagaimana Islam pernah berjaya lalu hilang secara politik di Andalusia, sebuah organisasi keagamaan pun bisa mengalami kemunduran atau bahkan lenyap. Namun, menurutnya, ajaran Rasulullah SAW tidak akan pernah hilang.
Secara historis, Islam di Andalusia memang menjadi contoh kuat bagaimana sebuah peradaban besar bisa runtuh. Selama hampir delapan abad, Islam berkembang pesat di wilayah Spanyol modern, melahirkan kemajuan ilmu pengetahuan, filsafat, dan budaya. Namun pada akhir abad ke-15, kekuasaan politik Islam berakhir. Meski demikian, nilai-nilai keilmuan dan etika yang diwariskan tetap memengaruhi peradaban dunia hingga kini.
Pengamat sejarah Islam, Dr. Ahmad Munif, menyatakan bahwa hilangnya institusi atau kekuasaan tidak identik dengan hilangnya ajaran. “Sejarah menunjukkan bahwa struktur bisa runtuh, tetapi nilai yang bersifat universal akan terus hidup dan diwariskan lintas zaman,” ujarnya dalam sebuah diskusi kebudayaan Islam.
Dalam konteks Indonesia, PBNU sebagai organisasi Islam terbesar memiliki peran strategis dalam pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan. Namun para ahli menilai bahwa keberlangsungan organisasi mana pun sangat bergantung pada kemampuan menjaga relevansi, etika kepemimpinan, dan kesetiaan pada nilai dasar ajaran Islam, bukan semata pada kekuatan struktur.
Rhoma Irama menegaskan bahwa ajaran Rasulullah SAW bersifat abadi karena berlandaskan misi utama kenabian. Ia mengutip hadis terkenal, “Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlak” yang berarti Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Pesan ini, menurutnya, melampaui batas organisasi, golongan, dan simbol formal keagamaan.
Pakar akhlak Islam dulu Prof Zakiah Daradjat, dalam bukunya menjelaskan bahwa inti ajaran Islam memang terletak pada pembentukan karakter. “Akhlak mulia adalah fondasi utama. Bahkan seseorang bisa mencerminkan nilai Islam meskipun tidak secara eksplisit membawa identitas atau simbol keagamaan,” jelasnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!