Nepal Masih Cari 933 Pekerja Terjebak di Terowongan PLTA
Banjir Bandang Nepal-Tibet./visi.news/reuters.
VISI.NEWS - Tim penyelamat Nepal, dibantu para ahli dari China dan India, meningkatkan upaya evakuasi terhadap ratusan orang yang diyakini masih terjebak di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) setelah banjir Himalaya melanda wilayah tersebut pada pekan lalu.
Mengutip Reuters, Selasa (1/9/2026), pejabat Nepal menyatakan fokus evakuasi saat ini diarahkan untuk menjangkau 933 pekerja yang diyakini terjebak di 11 proyek pembangkit listrik tenaga air di distrik Rasuwa dan Nuwakot, dua wilayah yang terdampak paling parah.
Tentara Nepal menggunakan ledakan terkontrol, ekskavator, dan lampu sorot darurat untuk membersihkan air serta lumpur yang memenuhi terowongan.
Juru bicara militer Nepal, Raja Ram Basnet, mengatakan kondisi medan menjadi tantangan besar dalam proses evakuasi. Tim penyelamat masih memprioritaskan pembukaan terowongan pembangkit yang tertutup air dan lumpur.
"Sejumlah besar puing telah mengendap dan itu memberi kami tantangan besar untuk membuka terowongan. Fokus utama kami adalah membuka terowongan," paparnya.
Sebelumnya, banjir bandang yang membawa es, batu, dan lumpur menyapu sejumlah kota serta desa di lembah Nepal pada Rabu. Bencana yang berkaitan dengan runtuhnya gletser tersebut menyebabkan ratusan korban jiwa dan orang hilang.
Otoritas Nepal mengonfirmasi 903 orang tewas dan 4.247 orang hilang secara nasional, termasuk pekerja di proyek pembangkit listrik. Sementara itu, otoritas China melaporkan 16 orang tewas di Kabupaten Gyirong dan 546 orang masih hilang.
Kementerian Luar Negeri Nepal menambahkan sekitar 590 warga negara asing dari 39 negara masih belum ditemukan. Sementara itu, lebih dari 10.000 orang telah berhasil diselamatkan.
Palang Merah secara independen memperkirakan lebih dari 90.000 orang kemungkinan terdampak langsung akibat bencana tersebut.
Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyoroti sulitnya menyusun penilaian menyeluruh mengenai kerusakan yang terjadi pada infrastruktur sektor tenaga air yang sedang dibangun di negaranya.
"Banjir ini adalah bencana alam yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat menghancurkan," ucapnya.
Warga China di Nepal Masih Belum Ditemukan
Pemerintah China juga menyampaikan perkembangan terkait warga negara asing yang terdampak bencana. Beijing menyatakan 261 warga negara asing dari 23 negara belum ditemukan di Tibet.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan koordinasi darurat terus dilakukan lintas perbatasan untuk menangani dampak bencana.
"Hampir 100 warga negara China belum dapat dihubungi di pihak Nepal," ungkapnya.
Operasi penyelamatan sempat ditangguhkan beberapa kali akibat cuaca ekstrem. Tim penyelamat juga menghadapi kekhawatiran mengenai danau bendungan alami yang terbentuk di wilayah perbatasan Nepal-China karena berpotensi memicu banjir susulan.
Lembaga penyiaran pemerintah China, CCTV, melaporkan ketidakstabilan gletser akibat efek jangka panjang pemanasan global menjadi pemicu utama bencana tersebut.
Menanggapi keluhan pejabat Nepal mengenai kurangnya transparansi dalam pembagian data risiko gletser, Kementerian Luar Negeri China membantahnya. Beijing menyatakan terus memasok Nepal dengan data meteorologi dan hidrologi yang diperlukan untuk mendukung penanganan risiko bencana.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!