Momen Langka di Makkah, Matahari Tepat di Atas Ka'bah

ED
Jumat, 29 Mei 2026 | 06:54 WIB
Bagikan
Momen Langka di Makkah, Matahari Tepat di Atas Ka'bah

**Terjemahan:** *Keselarasan Matahari yang hampir sempurna tepat di atas Ka'bah Suci di Makkah terjadi hanya sekali setiap 33 tahun, menurut para astronom. /SPA

VISI.NEWS | MAKKAH – Fenomena astronomi langka terjadi di langit Kota Makkah pada Kamis (28/5/2026) ketika posisi Matahari berada hampir tepat di atas Ka'bah. Peristiwa yang berlangsung pada pukul 12.18 waktu setempat tersebut menjadi momen penting bagi sekitar 1,8 miliar umat Islam di seluruh dunia untuk memverifikasi arah kiblat secara akurat menggunakan posisi Matahari.

Fenomena ini bertepatan dengan waktu azan Zuhur di Masjidil Haram. Pada saat itu, sinar Matahari jatuh hampir tegak lurus di atas Ka'bah sehingga menciptakan kondisi astronomi yang sangat presisi untuk menentukan arah kiblat dari berbagai belahan dunia.

Direktur Jeddah Astronomy Society, Majed Abu Zahra, menjelaskan bahwa Matahari mencapai posisi dengan ketinggian sekitar 89,94 derajat di atas Ka'bah. Angka tersebut hanya terpaut sekitar 0,06 derajat atau sekitar 3,6 menit busur dari posisi sempurna tepat di zenit.

"Kondisi ini memberikan kesempatan langsung untuk memverifikasi arah kiblat menggunakan posisi Matahari maupun bayangan yang dihasilkan oleh benda-benda vertikal," jelas Abu Zahra.

Akibat posisi Matahari yang hampir tepat berada di atas kepala, Ka'bah dan seluruh benda tegak di kawasan Makkah kehilangan bayangan selama beberapa saat. Fenomena tanpa bayangan ini menjadi salah satu indikator utama bahwa Matahari berada pada posisi zenit.

Menurut para astronom, peristiwa tersebut terjadi dua kali setiap tahun sebagai akibat dari pergerakan semu Matahari antara Garis Balik Utara (Tropic of Cancer) dan Garis Balik Selatan (Tropic of Capricorn). Karena Kota Makkah berada pada koordinat sekitar 21,4 derajat Lintang Utara, Matahari melintas tepat di atas wilayah tersebut sekali saat bergerak ke utara pada akhir Mei dan sekali lagi ketika bergerak kembali ke selatan pada pertengahan Juli.

Data astronomi menunjukkan bahwa sehari sebelumnya, yakni Rabu (27/5/2026), Matahari juga berada sangat dekat dengan posisi zenit di atas Ka'bah dengan ketinggian 89,89 derajat. Namun, puncak keselarasan astronomi yang sesungguhnya terjadi pada Kamis, menjadikannya momen paling akurat sepanjang tahun untuk melakukan pengecekan arah kiblat berbasis bayangan Matahari.

Fenomena ini tidak hanya memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Islam, tetapi juga nilai ilmiah yang tinggi. Peristiwa tersebut menjadi bukti nyata pergerakan Bumi dan mekanika benda-benda langit yang dapat diamati secara langsung dari permukaan planet.

Dalam sejarah Islam, metode penentuan arah kiblat menggunakan posisi Matahari telah digunakan sejak berabad-abad lalu oleh para ilmuwan Muslim. Teknik ini membantu memastikan orientasi masjid-masjid yang dibangun jauh dari Makkah di berbagai wilayah Asia, Afrika, hingga Eropa.

Keistimewaan tahun ini semakin bertambah karena fenomena zenit Matahari di atas Ka'bah bertepatan dengan hari kedua Iduladha 1447 Hijriah. Para astronom menjelaskan bahwa kesesuaian antara kalender lunar Islam dan kalender Matahari seperti ini sangat jarang terjadi.

Karena kalender Hijriah bergerak lebih cepat sekitar 10 hingga 11 hari setiap tahun dibanding kalender Masehi, peristiwa ketika zenit Matahari di atas Ka'bah bertepatan dengan puncak musim haji dan Iduladha hanya terjadi sekali dalam siklus sekitar 33 tahun. Setelah tahun ini, fenomena serupa diperkirakan baru akan terulang kembali pada tahun 2059.

Meski fenomena tersebut menempatkan Matahari hampir tepat di atas kepala, otoritas meteorologi Arab Saudi menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak secara langsung menyebabkan gelombang panas ekstrem. Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi (NCM) menjelaskan bahwa suhu udara harian dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, termasuk kelembapan udara, pergerakan massa udara, kecepatan angin, dan kondisi atmosfer regional.

Menurut NCM, meskipun radiasi Matahari memang lebih langsung saat berada di titik zenit, kondisi cuaca dan suhu permukaan tetap ditentukan oleh kombinasi berbagai faktor meteorologis yang lebih kompleks.

Fenomena langka ini menjadi perpaduan unik antara sains dan spiritualitas. Di satu sisi, peristiwa tersebut menunjukkan ketepatan perhitungan astronomi modern, sementara di sisi lain memberikan kesempatan bagi umat Islam di seluruh dunia untuk memastikan arah kiblat dengan metode alami yang telah digunakan selama berabad-abad. Dengan siklus kemunculan yang sangat jarang, momen zenit Matahari di atas Ka'bah pada musim haji dan Iduladha 2026 menjadi salah satu peristiwa astronomi paling istimewa tahun ini.

@uli

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.