Menkomdigi Ajak Perusahaan Seluler Bangun Infrastruktur di Daerah Terpencil
VISI.NEWS | MALANG - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mendorong perusahaan operator seluler (opsel) untuk memperluas jangkauan jaringannya di daerah-daerah terpencil.
Meutya meminta kepada perusahaan opsel tidak hanya mengejar keuntungan semata.
"Ini jadi PR bersama yang kami ingin dorong lagi-lagi bukan hanya pemerintah sendiri. Operator seluler swasta itu kita dorong juga masuk ke wilayah pinggiran atau terluar. Jadi jangan hanya mencari keuntungan di wilayah gemuk saja," kata Meutya usai meresmikan Artificial Intelligence di Universitas Brawijaya, Minggu (5/1/2024).
Saat ini, wilayah Indonesia yang terjangkau dengan jaringan internet seluler 4G yakni 98%. Diakuinya, belum semua wilayah terjangkau, termasuk Pulau Jawa.
"Di Malang misalnya ada Kabupaten Malang yang memang belum sepenuhnya terkoneksi," katanya.
Meski begitu, daerah-daerah yang belum terjangkau internet akan menjadi perhatian pihaknya. Dia mencontohkan di MTS Ibnu Sinah, Desa Kidal, Kabupaten Malang, pada tahun 2023 lalu belum bisa melakukan ujian secara online dan saat ini sudah terhubung jaringan internet dengan baik.
"Guru-gurunya belum bisa memanfaatkan secara online. Saat ini kami jembatani dengan membangun atau menarik koneksi dari satria-satria. Tapi lagi-lagi yang kami harapkan sebetulnya adalah operator seluler juga ikut membangun Indonesia dari wilayah yang mungkin dianggap terluar dari kabupaten, kota yang ada di Indonesia," ungkapnya.
Di sisi lain, dalam kunjungan kerjanya, Meutya Hafid meresmikan Artificial Intelligence (AI) Center atau pusat riset berbasis kecerdasan buatan di Universitas Brawijaya (UB), Kota Malang pada Minggu (5/1/2025). Wanita yang juga mantan jurnalis ini mendorong kampus-kampus untuk mencetak jutaan lulusan talenta digital.
Meutya mengatakan, saat ini Indonesia kekurangan banyak talenta digital yang ditargetkan pada tahun 2030 mendatang jumlahnya mencapai 9 juta orang. Sedangkan, saat ini posisinya masih berada di angka 3 juta orang dengan target kedepan setiap tahunnya ada 1 juta talenta digital baru.
"Artinya harus ada percepatan, nah sebetulnya target pertahunnya 500.000, tapi tentu kita akan coba dorong lebih banyak lagi, kalau bisa minimal 1 juta, supaya ke 2030-nya sampai sesuai dengan target," kata Meutya, Minggu (5/1/2025).
Ia menyampaikan, bahwa untuk menciptakan 1 juta talenta dalam satu tahun bukan hal yang mudah dan tidak bisa dilakukan sendirian oleh pemerintah. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki potensi untuk melahirkan talenta-talenta digital baru yang tinggi.
"Kenapa universitas? Karena memang ini stok talentanya sudah tidak mulai dari nol lagi, dari kampus sudah bisa mencari siapa-siapa saja yang akan diprioritaskan supaya tingkat kelulusannya tinggi," katanya.
"Kita tentu amat mendukung, tidak hanya di Universitas Brawijaya tapi mudah-mudahan nanti diikuti universitas-universitas lainnya untuk ikut bersama dengan upaya pemerintah dalam melahirkan talenta-talenta digital," sambungnya.
Adanya AI Center juga dinilainya sebagai bentuk komitmen UB untuk mendukung pemerintah mencetak talenta digital. Ia berharap, Indonesia pada tahun 2030 mendatang bisa bergeliat secara mandiri di industri digital tetapi bukan sebagai konsumen.
"Termasuk aplikasi-aplikasi kecerdasan artificial ini yang tadi saya lihat amat membantu misalnya di bidang ketahanan pangan dan juga tadi di bidang-bidang lainnya. Itu bisa digunakan oleh banyak peternak, banyak petani di Indonesia untuk mencapai target kita untuk swasembada pangan," katanya. @desi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!