Menjelajahi Glodok: Kisah Ratusan Tahun Tersimpan di Balik Gang dan Vihara
Suasana vihara di kawasan Glodok, Jakarta./visi.news/traverse.id.
"Bayangin 400 tahun berkembang secara organik. Jadi gang-gangnya ada makanan, ada rumah-rumah. Umurnya bayangin sudah lebih dari 300 tahun," ujar Abimantra.
Perjalanan dimulai dari kawasan Pancoran Glodok yang namanya dikaitkan dengan keberadaan sumber air pada masa lalu. Sementara itu, nama Glodok dalam cerita masyarakat dipercaya berasal dari bunyi kincir kayu yang menggerakkan aliran air.
"Glodoknya dari mana? Sumber mata air itu dulu ada kincir penggerak dari kayu, bunyinya 'glodok, glodok, glodok'. Itu cerita lokal, tapi saya percaya karena masuk akal," jelasnya.
Rute kemudian berlanjut menuju Pasar Pancoran dan Petak Sembilan. Di kawasan ini, pengunjung dapat menemukan toko obat tradisional, pasar, rumah ibadah, hingga beragam usaha keluarga yang telah berdiri turun-temurun.
Menurut Abimantra, Petak Sembilan sejak lama dikenal sebagai pusat pengobatan tradisional Tionghoa.
"Kalau orang Tionghoa misalnya, kalau enggak ke tabib ya ke dukun. Orang Tionghoa juga sangat dikenal dengan traditional Chinese medicine-nya. Di Petak Sembilan, kita akan banyak menemukan toko obat," katanya.
Perjalanan kemudian berakhir di Gang Gloria, salah satu lorong kuliner legendaris di Glodok yang menjadi tujuan wisatawan maupun warga Jakarta.
"Ini Gang Gloria. Dulu ada pertokoan Gloria di sini, dan ini berkembang berapa ratus tahun," ujar Abimantra.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!