Menjelajahi Glodok: Kisah Ratusan Tahun Tersimpan di Balik Gang dan Vihara

Desi Rossilawati
Jumat, 3 Juli 2026 | 11:06 WIB
Bagikan
Menjelajahi Glodok: Kisah Ratusan Tahun Tersimpan di Balik Gang dan Vihara

Suasana vihara di kawasan Glodok, Jakarta./visi.news/traverse.id.

VISI.NEWS - Glodok selama ini dikenal sebagai pusat kuliner, perdagangan, dan kawasan Pecinan di Jakarta. Namun, di balik deretan toko tua, vihara, gereja, rumah-rumah bersejarah, serta lorong-lorong sempit, tersimpan jejak panjang perjalanan Batavia, komunitas Tionghoa, dan keberagaman yang membentuk wajah Jakarta selama ratusan tahun.

Dalam kegiatan media experience bertajuk Jalan Jajan: Petak ke Petak yang digelar Gojek di Jakarta, Kamis (25/6/2026), peserta diajak menyusuri kawasan Glodok dipandu oleh Abimantra Pradhana, Founder SANA Kenal Kota.

Menurut Abimantra, Glodok bukan sekadar destinasi kuliner, melainkan bagian penting dari sejarah perkembangan Jakarta.

"Kalau enggak ada Glodok, keragaman itu enggak akan ada," kata Abimantra dalam keterangannya dikutip, Jumat (3/7/2026).

Ia menjelaskan, sejarah Glodok tidak dapat dipisahkan dari kawasan Kota Tua dan Batavia. Benteng Batavia mulai dibangun pada 1619 dan pada masa itu menjadi pusat kota yang dihuni masyarakat Belanda serta komunitas Tionghoa, sementara kelompok etnis lainnya menetap di kampung-kampung di luar tembok kota.

Dari perkembangan tersebut lahir berbagai kawasan permukiman yang dikenal berdasarkan asal komunitasnya, seperti Kampung Bugis dan Kampung Ambon.

Glodok kemudian berkembang sebagai kawasan Pecinan di luar benteng Batavia. Wilayah ini juga menyimpan catatan sejarah penting, termasuk peristiwa Geger Pecinan pada 1740 yang menjadi salah satu babak kelam dalam sejarah komunitas Tionghoa di Batavia.

Setelah peristiwa tersebut, masyarakat Tionghoa kembali membangun kehidupan di kawasan Glodok. Gang-gang yang kini tampak padat dan berliku merupakan hasil perkembangan kawasan yang berlangsung secara alami selama berabad-abad.

"Bayangin 400 tahun berkembang secara organik. Jadi gang-gangnya ada makanan, ada rumah-rumah. Umurnya bayangin sudah lebih dari 300 tahun," ujar Abimantra.

Perjalanan dimulai dari kawasan Pancoran Glodok yang namanya dikaitkan dengan keberadaan sumber air pada masa lalu. Sementara itu, nama Glodok dalam cerita masyarakat dipercaya berasal dari bunyi kincir kayu yang menggerakkan aliran air.

"Glodoknya dari mana? Sumber mata air itu dulu ada kincir penggerak dari kayu, bunyinya 'glodok, glodok, glodok'. Itu cerita lokal, tapi saya percaya karena masuk akal," jelasnya.

Rute kemudian berlanjut menuju Pasar Pancoran dan Petak Sembilan. Di kawasan ini, pengunjung dapat menemukan toko obat tradisional, pasar, rumah ibadah, hingga beragam usaha keluarga yang telah berdiri turun-temurun.

Menurut Abimantra, Petak Sembilan sejak lama dikenal sebagai pusat pengobatan tradisional Tionghoa.

"Kalau orang Tionghoa misalnya, kalau enggak ke tabib ya ke dukun. Orang Tionghoa juga sangat dikenal dengan traditional Chinese medicine-nya. Di Petak Sembilan, kita akan banyak menemukan toko obat," katanya.

Perjalanan kemudian berakhir di Gang Gloria, salah satu lorong kuliner legendaris di Glodok yang menjadi tujuan wisatawan maupun warga Jakarta.

"Ini Gang Gloria. Dulu ada pertokoan Gloria di sini, dan ini berkembang berapa ratus tahun," ujar Abimantra.

Di kawasan tersebut, berbagai kuliner legendaris masih bertahan hingga kini, mulai dari Kopi Es Tak Kie, Kari Lam, otak-otak, nasi Hainan, pangkas rambut yang telah beroperasi lintas generasi, hingga soto Betawi khas Tionghoa.

Bagi Abimantra, setiap sudut Glodok tidak hanya menawarkan cita rasa kuliner, tetapi juga menyimpan kisah tentang keluarga, perdagangan, dan keberlangsungan kehidupan masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.