Meningkatnya Penderita Gangguan Kecemasan: Gejala dan Cara Mengatasinya
ED
Editor
M Purnama Alam
Minggu, 9 Juni 2024 | 07:42 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Angka penderita gangguan kecemasan meningkat sebanyak 15% sejak tahun 2005, berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Data dari tahun 2015 menunjukkan sekitar 264 juta orang di seluruh dunia menderita gangguan kecemasan. Namun, apa sebenarnya gangguan kecemasan itu?
Rasa cemas adalah respon normal dalam beberapa situasi, sebagai bentuk perlindungan diri dari bahaya. Namun, gangguan kecemasan berbeda; ia melibatkan rasa takut yang berlebihan dan tidak rasional terhadap situasi yang sebenarnya tidak berbahaya. Bagi penderita, perasaan ini sangat nyata meski tidak jelas apa penyebabnya.
Gangguan kecemasan memiliki berbagai bentuk, salah satunya adalah fobia. Fobia adalah ketakutan yang tidak rasional terhadap situasi atau objek tertentu, seperti aviophobia (takut terbang) atau arachnophobia (takut laba-laba). Berbeda dengan fobia, gangguan kecemasan umum tidak memiliki pemicu yang jelas. Rasa takut selalu mengintai, seakan menjadi bayangan yang tidak bisa dihindari. Meskipun gangguan ini tidak selalu hadir secara permanen, stres yang berkelanjutan sering kali memicu kemunculannya.
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan kecemasan meliputi jenis kelamin (perempuan dua kali lebih berisiko daripada laki-laki), faktor genetik, serta lingkungan dan pengalaman traumatik.
Gejala Gangguan Kecemasan
- Rasa lelah yang berlebihan
- Kesulitan tidur
- Masalah pencernaan
Jika Anda mengalami kecemasan dan ketakutan selama lebih dari enam bulan, disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli. Namun, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi kecemasan:
1. Berolahraga Secara Teratur
Berolahraga dua atau tiga kali seminggu selama minimal 30 menit sangat dianjurkan. Jenis olahraga tidak penting, bisa berupa berlari, pergi ke gym, bermain sepak bola, atau berenang. Aktivitas fisik membantu mengurai hormon adrenalin yang diproduksi tubuh saat stres. Dengan berolahraga, tubuh kita belajar menghadapi dan mengatasi reaksi terhadap stres dengan lebih baik.
2. Diet Sehat dan Seimbang
Konsumsi biji-bijian, sayuran, dan omega-3 dapat membantu mengurangi stres. Hindari makanan dengan kadar karbohidrat tinggi seperti roti atau pasta dari tepung terigu, karena dapat meningkatkan kadar insulin yang memicu peradangan dalam tubuh. Sebaliknya, buah-buahan dan sayuran dapat melawan peradangan. Zat seperti lemak omega-3 dan triptofan (asam amino dalam susu) dapat berfungsi sebagai penenang alami. Hindari kopi karena kafein dapat meningkatkan detak jantung dan memberikan sinyal stres pada tubuh.
3. Teknik Relaksasi
Teknik relaksasi seperti yoga, meditasi, dan pelatihan kesadaran sangat efektif untuk mengurangi stres. Semua teknik ini berfokus pada cara bernapas. Dalam keadaan stres, napas kita menjadi pendek, memicu reaksi "fight or flight" yang mengeluarkan hormon stres. Dengan bernapas pelan dan dalam, tubuh akan rileks dan hormon stres berkurang.
Penerapan kebiasaan-kebiasaan ini biasanya menunjukkan perkembangan setelah dua bulan. Jika tidak ada perkembangan, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter atau terapis untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!