Mengapa Sejumlah Penjudi Bermasalah Tak Dapat Mengurangi Kerugian Mereka
Penjudi impulsif lebih cenderung untuk terus bermain meskipun mengalami kekalahan, terus-menerus mengejar kemenangan yang sulit dipahami untuk memulihkan kekalahan mereka.
Penelitian telah menunjukkan bahwa remaja dengan impulsivitas tinggi tiga kali lebih berisiko mengembangkan masalah perjudian dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang impulsivitasnya rendah selama masa dewasa awal.
Hal ini menyoroti periode kritis masa remaja sebagai masa ketika impulsivitas dapat secara signifikan memengaruhi perilaku dan hasil di masa depan. Selama tahap perkembangan ini, remaja masih membentuk keterampilan regulasi kognitif dan emosional mereka, membuat mereka lebih rentan terhadap perilaku berisiko seperti perjudian.
Impulsivitas tidak hanya terjadi pada perjudian; Hal ini juga lazim terjadi pada perilaku adiktif lainnya, seperti permainan daring yang bermasalah, konsumsi alkohol berlebihan, dan merokok. Memahami dan mengelola impulsivitas sejak usia muda dapat mengurangi kemungkinan timbulnya masalah perjudian dan mengurangi kecenderungan perilaku adiktif lainnya.
Distorsi kognitif terkait perjudian juga berperan penting dalam mendorong masalah perjudian. Distorsi kognitif terwujud sebagai pikiran atau keyakinan yang tidak akurat yang menyebabkan individu melebih-lebihkan kendali mereka atas hasil perjudian. Ilusi kendali Misalnya, penjudi mungkin percaya bahwa mereka "akan" menang setelah serangkaian kekalahan. Atau bahwa mereka memiliki keahlian khusus yang dapat membantu mereka memengaruhi hasil dari aktivitas yang pada dasarnya berbasis peluang.
Distorsi kognitif semacam itu menyebar luas di kalangan penjudi di Malaysia, yang banyak di antaranya berasal dari latar belakang budaya Tiongkok dengan keyakinan yang mengakar kuat pada takdir dan keberuntungan.
Keyakinan ini dapat menyebabkan penjudi terlibat dalam ritual atau takhayul, yang selanjutnya memperkuat ilusi kendali dan mengabadikan siklus perjudian. Penilaian ulang kognitif adalah keterampilan mengendalikan emosi yang melibatkan perubahan cara seseorang berpikir tentang suatu situasi untuk mengubah dampak emosionalnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!