Manusia Digital dan Ke(tidak)bebasan
Aporia Demokrasi Digital?
Meminjam istilah Lenier, sistem algoritma telah menjadi the master of context for humanity. Rumus-rumus algoritmis tak diragukan lagi sangat membantu manusia dalam menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat teknis. Namun, menjadi sangat problematis jika rumus-rumus tersebut juga diterapkan pada hal-hal yang mempengaruhi bahkan membentuk ulang segi-segi kemanusiaan, moralitas, dan keadaban bermasyarakat kita. Apa boleh buat, inilah yang sedang menggejala dalam kehidupan kita belakangan. Sedang berlangsung proses pengarustamaan penerapan teknologi kecerdasan buatan di berbagai bidang tanpa antisipasi yang memadai atas resiko-resiko sistemiknya. Kita sedang terpesona oleh prinsip personalisasi, otomatisasi, robotifikasi produksi dan distribusi konten tanpa memperhitungkan benar apa dampaknya jika konten tercerabut dari konteks, akar-masalah dan landasan epistemologis yang melingkupinya.
Apa yang dapat disimpulkan untuk sementara ini?
Di era supremasi algoritma hari ini, manusia digital menikmati kebebasan sekaligus terisolasi dalam ruang kehidupan yang terberi. Kita menggenggam otonomi diri sekaligus terdikte oleh tangan-tangan yang tak tampak. Kita sedang menghadapi aporia demokrasi digital. Digitalisasi memberikan peluang yang individu lepas dari struktur kekuasaan yang menindas dan otoriter. Ada banyak kasus yang sering menjadi rujukan di sini dan Arab Spring menjadi contoh utama.
Namun, digitalisasi juga telah menghadapkan kita pada jenis kekuasaan yang baru. Jenis kekuasaan yang sama sekali tidak menyeramkan, tidak berwajah bengis dan menakutnakuti dengan moncong senjata. Mereka adalah sang kapitalis baik hati, yang selalu memberikan kegembiraan kepada kita melalui rupa-rupa layanan dan kemudahan yang saban hari bisa kita akses dengan begitu mudah. Dan Schiller (2000) menyebutnya sebagai kapitalisme digital (digital capitalism). Sulit untuk berkata “tidak” terhadap kapitalisme jenis ini karena seperti terangkum dalam istilah freenemy, mereka pembawa masalah sekaligus pemberi solusi, pengendali sekaligus pembebas, pencipta belenggu sekaligus pembawa peluang untuk menghadapi belenggu.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!