Manusia Digital dan Ke(tidak)bebasan
Digital Panopticon
Hingga saatnya pakar digital seperti Jaron Lenier menyadarkan apa yang sesungguhnya terjadi dalam dunia virtual kita dan bagaimana hubungan kita dengan kekuatan ekonomi yang menyediakan layanan-layanan digital untuk kebutuhan sehari-hari kita. Penulis buku You Are Not a Gadget (2010) itu mengingatkan bahwa semakin aktif kita berinternet, semakin dalam kehidupan digital kita terintegrasi dalam ekosistem informasi-komunikasi yang dikendalikan perusahaan teknologi global. Dalam ekosistem tersebut, kita sesungguhnya hidup dengan pilihan-pilihan yang serba terbatas dan diseleksi oleh kode-kode matematis-komputasional yang bekerja secara laten, otomatis dan tanpa kita sadari. Platform digital selalu mengawasi apa yang kita lakukan di dunia maya. Mereka selalu merekam apa yang kita cari, yang sering kita klik, dengan siapa kita berjaringan dan seterusnya. Mereka mengetahui gerak-gerik kita, tetapi kita tidak tahu apa yang mereka lakukan terhadap kita. Dalam konteks inilah belakangan banyak orang menggunakan tshirt dengan tulisan “I don’t need Google, my wife knows everything”. Yang terjadi sebenarnya justru sebaliknya, Google mengetahui lebih banyak tentang diri kita dibandingkan orang terdekat kita sekalipun. Manusia digital terjerembab dalam apa yang disebut digital panopticon. Merujuk pada pemikiran Jeremy Bentham dan Michel Foucault, manusia digital ibaratnya hidup dalam kamp konsentrasi raksasa di mana hampir semua yang mereka lakukan diawasi the all-seeing digital eyes, yakni platform digital global. Mereka telah menanamkan teknologi pengawasan dan penambangan data pada seluruh layanan atau aplikasi digital yang setiap hari mereka pinjamkan kepada pengguna internet di seluruh dunia. Ternyata tidak ada yang benar-benar gratis dari layanan digital itu. Layanan gratis selalu dibarter dengan penyerahan data diri secara gratis. Maka semakin aktif kita menggunakan layanan digital itu, sesungguhnya semakin kurang relevan kita berbicara tentang privasi. Jika hingga penghujung tahun 2022 kemarin, pengguna aktif Facebook di seluruh dunia konon mencapai 2,94 juta milyar orang, kurang-lebih data dan privasi orang sebanyak itu pula yang dikelola Google. Maka terciptalah dunia yang penuh pengawasan dan penambangan data pribadi seperti terangkum dalam istilah digital panopticon itu. Berbagai penelitian menunjukkan, mayoritas pengguna internet tidak menyadari terjadinya praktik pengawasan dan penambangan data itu.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!