Manusia Digital dan Ke(tidak)bebasan
Praktik pengawasan dan penambangan data pribadi yang terjadi secara laten, otomatis, dan terus-menerus itu menghasilkan profil pengguna yang sangat detail. Apa masalah, kebutuhan, hobi, minat, nilai hidup, orientasi politik, orientasi religious para netizen terekam dengan begitu detail di sana. Surplus data pengguna kemudian diolah untuk menghasilkan surplus prediksi perilaku pengguna. Prediksi perilaku inilah yang kemudian menata jagat digital kita. Seperti dijelaskan Lenier, tidak ada yang benar-benar alamiah dan terjadi secara kebetulan dalam jagat digital kita. Informasi apa yang kita akses, musik atau film apa yang kita nikmati, pandangan ideologis yang terpaparkan di beranda media sosial, dengan siapa kita berkawan, kelompok percakapan mana yang kita ikuti, kurang lebih telah terkurasi dan tertata berdasarkan prediksi perilaku pengguna tadi. Sistem algoritma di sini membantu kita menggeluti hal-hal yang kita minati dan mengabaikan hal-hal lain. Namun konsekuensinya adalah, kita terperangkap dalam lingkup ketertarikan, sudut-pandang, dan pilihan informasi yang “itu-itu saja”. Suatu keadaan yang umumnya tidak disadari pengguna internet tetapi menentukan bagaimana mereka bersikap dan membuat keputusan. Kita menggenggam kebebasan untuk memilih di antara pilihan-pilihan yang sesungguhnya terbatas dan terberi secara algoritmis. Lebih serius lagi ketika keputusan dan sikap itu terkait dengan kepentingan orang banyak.
Misalnya sikap politik dalam pemilu, penerimaan terhadap fakta kemajemukan, atau cara-pandang terhadap kemanusiaan. Yang kita hadapi dalam hal ini terutama sekali bukanlah cakrawala pemikiran, nilai dan informasi yang luas dan terbuka, melainkan paparan gagasan, informasi dan nilai yang telah terkurasi secara algoritmis. Dalam cakrawala yang terberi itulah, kita notabene membangun preferensi pribadi tentang keyakinan religius, pandangan ideologis atau artikulasi politik.
Permasalahannya adalah preferensi tersebut tidak kita bangun dengan sikap yang terbuka, alih-alih dengan sikap reaktif terhadap perbedaan pandangan. Kita cenderung hanya mau menerima argumentasi yang memperkuat keyakinan kita dan mengabaikan argumentasi yang lain. Kita cenderung hanya mau berteman dan berdiskusi dengan orang-orang yang segaris-pemikiran. Hal yang tumbuh subur di sini adalah kelompok percakapan yang searah dan arus informasi yang tertentu. Keduanya kurang merangsang kebebasan berpikir dan dialog antar pemikiran yang sesungguhnya sangat fundamental dalam masyarakat yang pluralistik.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!