Mang Rusli dan Manisnya Asap Sate Plered
Plered dikenal sebagai kampung asal-usul Sate Maranggi. Secara historis, kisahnya kerap ditautkan dengan sosok legendaris Mak Anggi—figur yang diyakini menginspirasi nama “Maranggi”. Dari dapur-dapur sederhana warga, resep itu diwariskan lintas generasi, menjadikan Plered bukan hanya pusat kuliner, tetapi juga ruang pewarisan tradisi.
Meski Sate Maranggi H. Yetty lebih populer di kalangan pelintas tol, banyak penikmat kuliner menilai cita rasa di Plered lebih otentik. Di sentra ini, proses pembakaran berlangsung terbuka. Pengunjung bisa menyaksikan langsung daging yang telah dimarinasi dibolak-balik di atas bara, sementara asapnya menyatu dengan udara sore.
Ciri khas Sate Maranggi Plered terletak pada marinasi yang kuat. Rasa kencur terasa dominan, berpadu dengan manis alami gula merah asli. Bukan kecap botolan yang mendominasi, melainkan rempah yang menonjol dan berani. Harga pun relatif terjangkau, berkisar Rp2.000 hingga Rp4.000 per tusuk, menjadikannya ramah bagi semua kalangan.
Secara tradisional, sate disajikan dengan nasi putih hangat atau nasi timbel, sop, dan sambal tomat dadakan. Kombinasi ini menghadirkan pengalaman makan yang sederhana namun memuaskan—rasa gurih, manis, pedas, dan segar berpadu dalam satu suapan.
Tulang Punggung Ekonomi Lokal
Bagi Rusli dan puluhan pedagang lain, sentra sate di Plered bukan sekadar tempat berdagang. Ia adalah denyut ekonomi keluarga. Setiap tusuk sate yang terjual membantu membiayai kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, hingga perputaran modal harian.
Lokasinya yang berada di area Pasar Plered, tepat di depan Kantor Kecamatan, membuat arus pengunjung stabil. Pedagang umumnya mulai buka pukul 08.00 WIB hingga malam, bahkan beberapa lapak bertahan hingga pukul 22.00 WIB. Jam makan siang dan akhir pekan menjadi puncak keramaian, saat antrean mengular dan asap arang semakin pekat.
Kunjungan ke Kampung Sate Maranggi Plered bukan hanya soal mencicipi kuliner. Ia adalah perjalanan menyusuri tradisi, menyaksikan kerja keras pelaku UMKM, dan merasakan bagaimana aroma kencur dan arang menjadi simbol ketahanan ekonomi lokal. Di balik setiap tusuk sate, ada cerita tentang keberanian mengambil margin kecil, tentang ketekunan menjaga rasa, dan tentang harapan yang terus menyala bersama bara.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!