Mang Rusli dan Manisnya Asap Sate Plered

ED
Rabu, 18 Februari 2026 | 16:56 WIB
Bagikan
Mang Rusli dan Manisnya Asap Sate Plered

VISI.NEWS | PURWKARTA -Asap tipis mengepul dari bara arang di sentra Kampung Sate Maranggi Plered, Rabu (18/2/2026). Aroma daging yang dibakar dengan bumbu kencur yang tajam menyambut setiap pengunjung yang melintas di seberang Kantor Kecamatan Plered. Di antara deretan lapak, Mang Rusli berdiri sigap, menawarkan sate yang “disepol”-nya dari Mang Wahyu, sekaligus menjajakan sop iga racikannya sendiri.

“Lumayan, dulu sebelum lokasi ini direnovasi saya hanya jualan oleh-oleh, sekarang malah lumayan dari hasil sate ini,” ungkap Rusli sambil melayani pembeli yang datang silih berganti. Renovasi kawasan sentra sate membuat wajah Plered kian tertata, sekaligus mengerek jumlah kunjungan.

Skema dagang Rusli sederhana namun efektif. Ia mengambil sate dari Mang Wahyu seharga Rp2.000 per tusuk, lalu menjualnya Rp2.500. Sehari sebelum munggahan, penjualannya tembus 1.000 tusuk, bahkan pernah mencapai 2.000 tusuk. Di hari biasa saat sepi, 300 tusuk pun tetap habis terjual. Dari setiap tusuk, ada margin Rp500 yang jika dikalikan ribuan menjadi penggerak ekonomi harian yang nyata.

Tak hanya mengandalkan sate, Rusli juga meracik sop iga sapi sendiri yang dijual Rp25.000 per porsi. Jika sedang tak sempat memasak, ia mengambil dari pedagang lain seharga Rp22.000 dan menjualnya kembali dengan selisih Rp3.000. “Tapi kalau saya tidak buat sop sendiri dan ambil dari pedagang lainnya Rp22.000 per porsi. Jadi dapat Rp3.000,” katanya lugas.

Dari nasi timbel pun ada tambahan rezeki. Ia membeli Rp2.500 dan menjual Rp3.000, mengambil margin Rp500 per bungkus. Nilainya mungkin terlihat kecil, tetapi ketika ratusan pembeli datang, akumulasi keuntungan menjadi signifikan.

Sejak pasar sate beroperasi di lokasi yang kini lebih representatif, Rusli merasakan lonjakan pembeli, terutama saat akhir pekan dan hari libur. “Kalau hari libur bukan hanya pengunjung dari Bandung, dari Jakarta juga banyak sekali, bisa berombongan,” tandasnya. Plered tak lagi sekadar lintasan, melainkan tujuan.

Jantung Kuliner Purwakarta

Plered dikenal sebagai kampung asal-usul Sate Maranggi. Secara historis, kisahnya kerap ditautkan dengan sosok legendaris Mak Anggi—figur yang diyakini menginspirasi nama “Maranggi”. Dari dapur-dapur sederhana warga, resep itu diwariskan lintas generasi, menjadikan Plered bukan hanya pusat kuliner, tetapi juga ruang pewarisan tradisi.

Meski Sate Maranggi H. Yetty lebih populer di kalangan pelintas tol, banyak penikmat kuliner menilai cita rasa di Plered lebih otentik. Di sentra ini, proses pembakaran berlangsung terbuka. Pengunjung bisa menyaksikan langsung daging yang telah dimarinasi dibolak-balik di atas bara, sementara asapnya menyatu dengan udara sore.

Ciri khas Sate Maranggi Plered terletak pada marinasi yang kuat. Rasa kencur terasa dominan, berpadu dengan manis alami gula merah asli. Bukan kecap botolan yang mendominasi, melainkan rempah yang menonjol dan berani. Harga pun relatif terjangkau, berkisar Rp2.000 hingga Rp4.000 per tusuk, menjadikannya ramah bagi semua kalangan.

Secara tradisional, sate disajikan dengan nasi putih hangat atau nasi timbel, sop, dan sambal tomat dadakan. Kombinasi ini menghadirkan pengalaman makan yang sederhana namun memuaskan—rasa gurih, manis, pedas, dan segar berpadu dalam satu suapan.

Tulang Punggung Ekonomi Lokal

Bagi Rusli dan puluhan pedagang lain, sentra sate di Plered bukan sekadar tempat berdagang. Ia adalah denyut ekonomi keluarga. Setiap tusuk sate yang terjual membantu membiayai kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, hingga perputaran modal harian.

Lokasinya yang berada di area Pasar Plered, tepat di depan Kantor Kecamatan, membuat arus pengunjung stabil. Pedagang umumnya mulai buka pukul 08.00 WIB hingga malam, bahkan beberapa lapak bertahan hingga pukul 22.00 WIB. Jam makan siang dan akhir pekan menjadi puncak keramaian, saat antrean mengular dan asap arang semakin pekat.

Kunjungan ke Kampung Sate Maranggi Plered bukan hanya soal mencicipi kuliner. Ia adalah perjalanan menyusuri tradisi, menyaksikan kerja keras pelaku UMKM, dan merasakan bagaimana aroma kencur dan arang menjadi simbol ketahanan ekonomi lokal. Di balik setiap tusuk sate, ada cerita tentang keberanian mengambil margin kecil, tentang ketekunan menjaga rasa, dan tentang harapan yang terus menyala bersama bara.

@uli

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.