Makna dan Semangat Berkurban: Menumbuhkan Ketakwaan dan Kepedulian Sosial
Dalam perspektif fiqih, melansir pandangan para ulama, ibadah kurban dikenal dengan istilah udhiyyah, yaitu penyembelihan hewan ternak (unta, sapi, atau kambing) pada hari Idul Adha dan hari-hari tasyriq (11-13 Dzulhijjah) sebagai bentuk pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. Menurut para ahli fiqih, hukum berkurban adalah sunnah muakkadah, yakni sangat dianjurkan bagi Muslim yang mampu, sebagaimana dijelaskan dalam mazhab Syafi’i.
Namun, mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi,
“Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh manusia pada Hari Raya Kurban yang lebih dicintai Allah SWT dari menyembelih hewan kurban...”
Dalam hadis ini ditegaskan bahwa pahala kurban diterima oleh Allah bahkan sebelum darah hewan tersebut menyentuh tanah. Oleh karena itu, kurban bukan hanya ibadah fisik, tetapi sarat makna spiritual.
Selain sebagai bentuk ibadah, kurban juga merupakan manifestasi kepedulian sosial. Menurut Nurul Yaqin, kurban dapat meningkatkan keimanan sekaligus menumbuhkan solidaritas terhadap sesama. Dalam konteks ini, kurban menjadi media untuk membangun empati, mempererat ikatan sosial, dan menumbuhkan kesadaran kolektif untuk berbagi kebahagiaan, terutama kepada fakir miskin yang jarang menikmati daging dalam kesehariannya.
Mengutip pemikiran para cendekiawan Muslim, ibadah kurban juga dapat menghilangkan sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia, seperti rakus, tamak, dan egois. Kurban melatih keikhlasan, kesabaran, dan kepekaan sosial. Oleh karena itu, semangat berkurban seharusnya tidak berhenti pada momentum Idul Adha saja, melainkan terus dihidupkan dalam bentuk kontribusi nyata, seperti berbagi ilmu, harta, tenaga, dan waktu demi kemaslahatan umat.
Dalam konteks kehidupan aparatur penegak hukum, semangat berkurban memiliki relevansi yang besar. Menurut doktrin Tri Krama Adhyaksa, insan Kejaksaan dituntut untuk menjunjung tinggi nilai SATYA (kesetiaan), ADHI (kesempurnaan dalam bertugas), dan WICAKSANA (bijaksana). Ketiga nilai tersebut selaras dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam ibadah kurban.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!