Kultura Persib: Ketika Sejarah, Seni, dan Cinta Bobotoh Bersatu di Braga
pameran seni bertajuk “Kultura Persib”, hasil kolaborasi Grey Art Gallery dengan Persib Bandung yang akan digelar di Jalan Braga No. 47, Kota Bandung. /visi.news/ist
Penyelenggara tidak hanya melibatkan seniman profesional, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk berpartisipasi melalui program open call. Berbagai karya dan arsip yang dikirimkan menunjukkan betapa kuatnya hubungan emosional antara Persib dan para pendukungnya.
Sebanyak 70 kontributor ambil bagian dalam pameran ini dengan menghadirkan total 95 objek pameran. Koleksi tersebut mencakup karya seni rupa, mural, instalasi, arsip sejarah, dokumentasi fotografi, koleksi buku, hingga berbagai memorabilia yang memiliki kaitan erat dengan perjalanan Persib Bandung.
Salah satu magnet utama pameran adalah kehadiran empat patung karya seniman Iwong yang dibuat sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh penting dalam sejarah Persib. Empat figur yang diabadikan adalah Indra Thohir, H. Umuh Muchtar, Jajang Nurjaman, dan Bojan Hodak, sosok-sosok yang memiliki kontribusi besar dalam perkembangan dan prestasi klub.
Untuk memberikan pengalaman yang lebih mendalam, area pameran dibagi menjadi lima ruang berbeda, yaitu ruang teater, stone chamber, wood chamber, galeri utama, dan area lantai dua. Setiap ruang memiliki tema dan pendekatan kuratorial tersendiri.
Pada bagian depan galeri, pengunjung akan disambut dengan infografis perjalanan sejarah Persib yang menampilkan berbagai pencapaian, momen bersejarah, serta gelar juara yang pernah diraih klub. Sementara itu, area lantai dua menjadi ruang yang banyak menampilkan karya dan arsip hasil kontribusi langsung dari masyarakat.
Salah satu karya yang mendapat perhatian khusus dari kurator adalah mural yang menggambarkan kecintaan terhadap Persib yang diwariskan dari orang tua kepada anak. Karya tersebut dianggap mampu menunjukkan bagaimana Persib telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga dan identitas sosial masyarakat Bandung selama beberapa generasi.
Selain itu, terdapat pula mural yang merekam suasana pertandingan Persib pada era 1990-an, ketika banyak pendukung rela memanjat pohon demi mendapatkan kesempatan menyaksikan pertandingan secara langsung. Meski berangkat dari pengalaman pribadi, kisah-kisah seperti itu ternyata menjadi memori kolektif yang masih hidup di kalangan Bobotoh hingga saat ini.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!