Kondisi Bandara Indonesia: Kabut, Asap hingga Berawan
Bandara Frans Kaisiepo Biak tercatat cerah berawan dengan suhu 29 derajat Celsius, titik embun 24 derajat Celsius dan jarak pandang 7 kilometer. Sementara Bandara Rendani Manokwari mengalami kondisi berasap dengan jarak pandang 5 kilometer. Web Aviation
Bandara Mozes Kilangin Timika juga tercatat berasap. Jarak pandangnya sekitar 3 kilometer, dengan suhu 23 derajat Celsius dan titik embun 23 derajat Celsius. Web Aviation
Fenomena yang Paling Menonjol
Jika melihat keseluruhan data pengamatan BMKG, fenomena yang paling menonjol bukanlah dominasi badai atau hujan lebat di bandara-bandara tersebut, melainkan variasi tutupan awan dan penurunan jarak pandang akibat halimun, udara kabur serta asap.
Jarak pandang terendah dalam sejumlah data yang ditampilkan terdapat di Bandara Iskandar Pangkalan Bun, sekitar 1,2 kilometer. Kondisi serupa yang perlu diperhatikan juga muncul di Palembang dengan jarak pandang 2,5 kilometer, Pontianak 2,3 kilometer, serta Palangkaraya sekitar 2 kilometer. Web Aviation
Untuk penerbangan, kondisi jarak pandang rendah seperti ini menjadi parameter penting karena dapat memengaruhi fase lepas landas maupun pendaratan. Karena itu, kondisi aktual bandara harus terus dipantau bersamaan dengan prakiraan dan peringatan meteorologi penerbangan.
Perlu dicatat, data pengamatan bandara berbeda dengan citra satelit Himawari. Citra satelit memberikan gambaran kondisi awan pada wilayah yang luas dari atas, sedangkan pengamatan bandara menggambarkan kondisi atmosfer yang benar-benar terukur di sekitar lokasi bandara. Keduanya saling melengkapi dalam analisis cuaca.
BMKG sendiri menyediakan informasi cuaca bandara hingga 12 jam ke depan serta produk khusus penerbangan, termasuk potensi awan cumulonimbus. BMKG
Dengan demikian, pada Minggu, 13 September 2026, kondisi atmosfer di bandara-bandara Indonesia tidak seragam. Sejumlah bandara seperti Ngurah Rai, Hasanuddin, Sam Ratulangi dan Pattimura relatif baik dengan cuaca cerah atau cerah berawan dan jarak pandang cukup luas. Sebaliknya, beberapa bandara di Sumatra dan Kalimantan menghadapi halimun, udara kabur atau asap yang menyebabkan jarak pandang menurun dan perlu menjadi perhatian dalam operasional penerbangan. Web Aviation
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!