Khutbah Jumat: Meraih Amal yang Diridhai Allah
Itu adalah bukti bahwa dirinya belum tajrid, belum terlepas dari sebab, dan belum makrifat pada Allah. Siapa pun yang melihat pertanda ini dalam dirinya, maka janganlah dirinya mengaku sudah memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Sebaliknya, ia baru termasuk orang baik dari kalangan awam.
Hadirin sidang jumat yang berbahagia,
Namun, perlu diketahui bahwa melalui untaian hikmah di atas, Syekh Ibnu ‘Athaillah bukan berarti mengurangi semangat amal kita dan para penempuh jalan Allah, tetapi sebaliknya.
Ia hendak mendorong kita meningkatkan kualitas dan kuantitas amaliah ibadah. Ia justru ingin mengalihkan sifat bersandar dan bergantung kita kepada selain Allah, seperti amal, maqam, keadaan ruhani, serta segala yang sudah dicapai, menjadi bersandar kepada Allah, rahmat, dan karunia-Nya. Karena itu, orang-orang yang salah dan berdosa, masih bisa berharap akan rahmat dan pertolongan Allah. Ia masih bisa menatap firman Allah yang menyatakan:
وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَ
Artinya, “Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan, mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS. asy-Syura : 25).
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya, “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya,’” (QS. az-Zumar : 53).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!