KHUTBAH JUMAT | Menumbuhkan Sikap Optimistis dalam Hidup
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah.” (HR Muslim).
Ibadallah,
Optimistis adalah berharap kebaikan sambil melakukan usaha untuk mewujudkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang optimis. Dan sifat ini menjadi mindset beliau. Lalu beliau tularkan hal itu kepada para sahabatnya. Beliau tanamkan dengan ucapan dan prakteknya nyata dalam bentuk amalan. Bahkan kalau mendengar nama-nama yang memiliki arti yang baik, dada beliau terasa lapang. Beliau optimis dengan nama itu. dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ
“Tidak ada ‘adwa (penyakit menular atas kehendak penyakit itu sendiri), thiyarah (bernasib sial), hammah (firasat kematian), Safar (bulan sial) dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu juga,
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!