Keutamaan Guru dan Penuntut Ilmu Menurut Sabda Rasulullah
Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR Abu Dawud no 3157)
Saking tingginya ilmu dan guru yang mengajarkan ilmu dalam ajaran Islam, Rasulullah saw. juga pernah bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR Bukhari no 98)
Hadis di atas bila diperhatikan, adalah peringatan dari Nabi Muhammad saw. agar jangan sampai di suatu negeri atau kelompok masyarakat tidak ada orang yang memiliki ilmu. Sebab bila benar-benar tidak ada orang yang berilmu, tatanan sosial akan kacau balau.
Maka dari itu, peran guru sangat dibutuhkan, otomatis murid juga sebagai pengkaji ilmu amat sangat berkontribusi dalam tersebarnya keilmuan.
Terakhir, Nabi Muhammad saw. mengklasifikasikan dan memerintahkan umatnya menjadi umat yang berilmu, mencintai ilmu, menjadi pengajar dan mau menjadi pelajar. Keseriusan ini tampak dari sabda Nabi saw. berikut :
اغْدُ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُنْصِتًا أَوْ مُحِبًّا، وَلَا تَكُنِ الْخَامِسَةَ فَتَهْلَكَ
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!