Ketum AMSI: Media Harus Bertransformasi demi Masa Depan Jurnalisme dan Demokrasi
Ia mengungkapkan, Riset AMSI menunjukkan penurunan jumlah pengunjung, pencarian organik, page views, hingga click-through rate setelah Google menerapkan AI Overview. Sementara itu, perusahaan media tetap menanggung biaya produksi berita, server, dan bandwidth.
Tekanan ketiga adalah bergesernya perilaku konsumsi berita masyarakat ke media sosial dan figur personal. Generasi muda kini lebih sering memperoleh informasi melalui TikTok, Instagram, YouTube, maupun akun individu dibanding membuka situs berita secara langsung.
Survei AMSI 2025 menunjukkan sebanyak 60,4 persen media telah menggunakan TikTok sebagai kanal distribusi berita. Namun sebagian besar belum memiliki jurnalis atau news creator yang mampu membangun hubungan langsung dengan audiens.
"Tantangan kita bukan memilih antara situs berita dan media sosial. Tantangannya adalah menggabungkan kredibilitas sebuah institusi pers dengan kekuatan distribusi dan kedekatan seorang kreator," katanya.
Transformasi Teknologi, Bisnis, dan Kepercayaan Publik
Untuk menjawab tantangan tersebut, Wahyu menekankan tiga fokus utama transformasi media, yakni penguasaan teknologi (technology), diversifikasi pendapatan (revenue), dan penguatan kepercayaan publik (trust).
Dalam bidang teknologi, AMSI mendorong media tidak sekadar menjadi pengguna pasif platform global. Organisasi ini tengah mengembangkan infrastruktur bersama seperti OpenMined agar media memiliki kendali lebih besar atas akses dan pemanfaatan kontennya, termasuk mekanisme kompensasi yang adil. Selain itu, media juga perlu memperkuat perlindungan digital melalui pengaturan robots.txt, pemantauan bot, keamanan situs, pengelolaan data audiens, serta penyusunan standar penggunaan AI di ruang redaksi.
Di sisi distribusi, setiap perusahaan media didorong mengembangkan news creator, yakni jurnalis yang mampu menyampaikan berita melalui video pendek, siaran langsung, podcast, maupun format media sosial lainnya. Menurut Wahyu, langkah tersebut bukan untuk menjadikan jurnalis sebagai influencer, melainkan menghadirkan jurnalisme yang kredibel dalam format yang sesuai dengan kebiasaan audiens saat ini.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!