Ketum AMSI: Media Harus Bertransformasi demi Masa Depan Jurnalisme dan Demokrasi
VISI.NEWS – Ketua Umum (Ketum) Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wahyu Dhyatmika atau yang akrab disapa Bli Komang, menegaskan bahwa industri media nasional, khususnya media lokal, tengah menghadapi tantangan besar yang tidak lagi bersifat sementara, melainkan perubahan struktural yang mengubah cara informasi diproduksi, didistribusikan, dikonsumsi, hingga dimonetisasi.
Hal tersebut disampaikan Wahyu dalam sambutan pembukaan kegiatan AMSI Jawa Timur. Menurutnya, perubahan yang terjadi saat ini menuntut perusahaan pers tidak hanya mencari cara bertahan, tetapi melakukan transformasi menyeluruh agar tetap mampu menjalankan fungsi jurnalistik secara independen dan berkelanjutan.
"Kita berkumpul pada saat industri media tidak sedang baik-baik saja. Media menghadapi tekanan yang bukan lagi bersifat sementara. Ini adalah perubahan struktural dalam cara informasi diproduksi, didistribusikan, dikonsumsi, dan dimonetisasi. Karena itu, kita tidak cukup hanya mencari cara bertahan. Kita harus membangun ulang fondasi keberlanjutan media," ujarnya.
Tiga Tekanan Besar yang Mengubah Industri Media
Wahyu menjelaskan, industri media saat ini menghadapi tiga tekanan utama. Pertama adalah menurunnya belanja iklan dari pemerintah maupun sektor swasta. Berdasarkan Riset AMSI 2025, rata-rata 45,85 persen pendapatan iklan media masih berasal dari pemerintah pusat dan daerah. Ketergantungan yang tinggi ini, menurutnya, bukan hanya menjadi risiko bisnis, tetapi juga berpotensi memengaruhi independensi editorial.
Ketika pemerintah melakukan efisiensi anggaran dan perusahaan swasta mengalihkan belanja pemasaran ke platform digital serta kreator konten, media lokal menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Di sisi lain, biaya memproduksi jurnalisme berkualitas terus meningkat, sementara pasar iklan yang menopangnya semakin menyusut.
Tekanan kedua datang dari perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Wahyu menilai AI tidak hanya mengubah cara kerja wartawan, tetapi juga mengubah hubungan ekonomi antara media, platform digital, dan audiens. Konten media kini dibaca, diringkas, bahkan dimanfaatkan oleh mesin AI, namun nilai ekonominya lebih banyak berhenti di platform AI daripada kembali kepada perusahaan pers.
Ia mengungkapkan, Riset AMSI menunjukkan penurunan jumlah pengunjung, pencarian organik, page views, hingga click-through rate setelah Google menerapkan AI Overview. Sementara itu, perusahaan media tetap menanggung biaya produksi berita, server, dan bandwidth.
Tekanan ketiga adalah bergesernya perilaku konsumsi berita masyarakat ke media sosial dan figur personal. Generasi muda kini lebih sering memperoleh informasi melalui TikTok, Instagram, YouTube, maupun akun individu dibanding membuka situs berita secara langsung.
Survei AMSI 2025 menunjukkan sebanyak 60,4 persen media telah menggunakan TikTok sebagai kanal distribusi berita. Namun sebagian besar belum memiliki jurnalis atau news creator yang mampu membangun hubungan langsung dengan audiens.
"Tantangan kita bukan memilih antara situs berita dan media sosial. Tantangannya adalah menggabungkan kredibilitas sebuah institusi pers dengan kekuatan distribusi dan kedekatan seorang kreator," katanya.
Transformasi Teknologi, Bisnis, dan Kepercayaan Publik
Untuk menjawab tantangan tersebut, Wahyu menekankan tiga fokus utama transformasi media, yakni penguasaan teknologi (technology), diversifikasi pendapatan (revenue), dan penguatan kepercayaan publik (trust).
Dalam bidang teknologi, AMSI mendorong media tidak sekadar menjadi pengguna pasif platform global. Organisasi ini tengah mengembangkan infrastruktur bersama seperti OpenMined agar media memiliki kendali lebih besar atas akses dan pemanfaatan kontennya, termasuk mekanisme kompensasi yang adil. Selain itu, media juga perlu memperkuat perlindungan digital melalui pengaturan robots.txt, pemantauan bot, keamanan situs, pengelolaan data audiens, serta penyusunan standar penggunaan AI di ruang redaksi.
Di sisi distribusi, setiap perusahaan media didorong mengembangkan news creator, yakni jurnalis yang mampu menyampaikan berita melalui video pendek, siaran langsung, podcast, maupun format media sosial lainnya. Menurut Wahyu, langkah tersebut bukan untuk menjadikan jurnalis sebagai influencer, melainkan menghadirkan jurnalisme yang kredibel dalam format yang sesuai dengan kebiasaan audiens saat ini.
Dalam aspek bisnis, Wahyu menegaskan media tidak lagi dapat bergantung pada satu atau dua sumber pendapatan, khususnya iklan pemerintah dan iklan konvensional. Perusahaan pers perlu mengembangkan berbagai model bisnis seperti langganan, membership, penyelenggaraan acara, pelatihan, riset, pengelolaan data, sindikasi konten, jasa kreatif, bisnis B2B, affiliate marketing, hingga monetisasi media sosial.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa diversifikasi bisnis tidak boleh mengaburkan batas antara kepentingan komersial dan independensi redaksi. Model bisnis baru justru harus memperkuat kebebasan pers, bukan membuka ruang intervensi terhadap pemberitaan.
Menurut Wahyu, kepercayaan publik merupakan aset paling berharga yang dimiliki media. Di tengah maraknya informasi palsu, deepfake, propaganda, dan konten buatan AI, keunggulan media bukan terletak pada jumlah konten yang diproduksi, melainkan pada kemampuan memverifikasi fakta, memberikan konteks, mengoreksi kesalahan, dan mempertanggungjawabkan informasi kepada masyarakat.
Ia juga menegaskan bahwa keberlanjutan media bukan sekadar persoalan perusahaan pers, melainkan bagian penting dari demokrasi. Tanpa media yang sehat dan independen, pengawasan terhadap kekuasaan akan melemah, sementara ruang publik berisiko dipenuhi propaganda dan disinformasi.
"Iklan pemerintah tidak boleh membeli pemberitaan. Kerja sama bisnis tidak boleh menghapus fungsi kontrol sosial. Bantuan pemerintah tidak boleh berubah menjadi instrumen untuk mengendalikan ruang redaksi," tegasnya.
Menutup sambutannya, Wahyu mengajak seluruh anggota AMSI di Jawa Timur terus bertransformasi melalui penguasaan teknologi, pengembangan model bisnis baru, peningkatan kapasitas kreator, serta menjaga standar etik jurnalistik.
"Kita tidak boleh memilih antara bisnis dan jurnalisme. Bisnis yang sehat harus menjadi fondasi bagi jurnalisme yang independen. Itulah makna semboyan AMSI: sehat bisnisnya, berkualitas kontennya," pungkasnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!