Keterlibatan Ormas Keagamaan Dalam Izin Tambang Terus Disoal, Hingga Lambang NU jadi Bahan Olokan
"Pada momen kritis semacam itulah peran PBNU sangat mahal dan berumur panjang. Penerimaan konsesi tambang sebenarnya adalah keuntungan tidak seberapa dan hanya akan dinikmati segelintir jika kita memperhatikan bagaimana forum G-20 di Bali Indonesia justru mengkampanyekan investasi hijau. Jika dihitung sengan segala kerugiannya, dibandingkan konsesi tambang, konsesi investasi hijau jauh lebih menjanjikan. Sederhananya kita dibayar untuk melindungi alam kita sendiri," katanya.
Namun memang, Imbuh Iman, investasi hijau itu tidak akan terlihat wujud dan keuntuhannya dalam waktu dekat. Dia akan terlihat buahnya di masa depan. Itulah beratnya resiko PBNU menerima konsesi tambang. Kelihatannya untung, tapi dalam jangka panjang cukup merugikan.
"Konsesi tambang ini akan menjadi catatan bersejarah yang akan membuat para penulis sejarah juga kebingungan menuliskannya. Jika lima puluh tahun yang akan datang Indonesia menjadi lebih baik, salah satunya karena sukses menjaga lingkungan, maka kita mau tidak mau, suka tidak suka, memposisikan PBNU hari ini sebagai suatu masalah lingkungan di masa lalu karena memilih konsensi tambang daripada konsesi investasi hijau," tuturnya.
"Jika sebaliknya, Indonesia tidak lebih baik, keberadaan konsesi tambang bagi PBNU tetap akan menjadi masalah karena memenuhi unsur bagian dari masalah," sambungnya.
Mengapa pemerintah memberikan konsesi tambang pada organisasi masa? Diperlukan alasan-alasan politis untuk menjelaskannya. Dan ini bukan situasi yang menyenangkan bagi objek dalam teks sejarah.
"Inilah yang disebut future story, yaitu bagaimana proyeksi masa depan diperkirakan dengan cara membayangkan bagaimana sejarah diceritakan di masa depan," tuturnya.
Lambang Nahdlatul Ulama yang diolok-olok
Iman juga menyayangkan adanya pihak yang memperolok Lambang Nahdlatul Ulama (NU) dengan membalikan nama menjadi 'Ulama Nambang' (UN) . Dan dikaitkan dengan kebijakan kepemimpinan PBNU saat ini.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!