Kenapa Salat Harus Menghadap Kiblat ? Ini Hikmahnya
VISI.NEWS | BANDUNG - Salah satu rukun salat yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam adalah menghadap kiblat, yaitu arah Ka'bah di Makkah. Namun, tahukah Anda bahwa di balik kewajiban ini terdapat banyak hikmah yang bisa diambil sebagai pelajaran?
Syekh Ali Ahmad al-Jurjawi, seorang ulama besar yang hidup pada abad ke-14 M, menjelaskan tujuh hikmah menghadap kiblat dalam kitabnya yang berjudul Hikmatu Tasyri wa Falsafatuhu. Kitab ini merupakan salah satu karya monumental yang membahas tentang filsafat hukum Islam dan hikmah-hikmah di balik syariat Allah.
Berikut ini adalah ringkasan dari tujuh hikmah menghadap kiblat yang disampaikan oleh Syekh al-Jurjawi:
1. Mengenang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Ka'bah adalah bangunan suci yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dua nabi yang merupakan leluhur Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Dengan menghadap kiblat, umat Islam mengingat dan menghormati jasa-jasa mereka yang telah mendirikan rumah Allah yang pertama di muka bumi.
2. Melatih kekhusyuan
Kekhusyuan adalah salah satu syarat sah dan sempurna shalat. Kekhusyuan berarti hati dan pikiran fokus kepada Allah dan tidak terganggu oleh hal-hal lain. Dengan menghadap kiblat, umat Islam melatih kekhusyuan mereka dengan mengarahkan seluruh anggota tubuh dan jiwa mereka kepada Allah. Allah berfirman:
اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۚ
"Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (hanya) kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan (mengikuti) agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik". (QS. Al-An'am: 79)
3. Menumbuhkan istiqamah
Istiqamah adalah sikap teguh dan lurus dalam mengikuti agama Allah. Istiqamah adalah salah satu sifat yang dicintai Allah dan diperintahkan kepada umat Islam. Dengan menghadap kiblat, umat Islam menumbuhkan istiqamah mereka dengan mengikuti ketentuan Allah dalam menentukan arah shalat. Umat Islam tidak boleh sembarangan menghadap ke arah lain, kecuali ada udzur syar'i.
Umat Islam adalah satu umat yang bersaudara, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam:
اَلْمُسْلِمُ اَخُو الْمُسْلِمِ
"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain". (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan menghadap kiblat, umat Islam menunjukkan persatuan mereka dengan seluruh umat Islam di seluruh dunia yang juga menghadap ke arah yang sama. Meskipun berbeda-beda tempat, warna kulit, bahasa, dan budaya, umat Islam tetap satu hati dalam mengabdi kepada Allah.
5. Ekspresi ketulusan
Ketulusan atau keikhlasan adalah niat yang murni karena Allah tanpa ada campur aduk motif lain. Ketulusan adalah salah satu kunci kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup. Dengan menghadap kiblat, umat Islam mengekspresikan ketulusan mereka dalam beribadah kepada Allah. Umat Islam tidak mengharapkan pujian, imbalan, atau ganjaran dari makhluk lain, melainkan hanya mengharapkan ridha Allah.
6. Bukti ketaatan
Ketaatan adalah sikap patuh dan tunduk kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan adalah salah satu bukti iman dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan menghadap kiblat, umat Islam membuktikan ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Umat Islam mengikuti perintah Allah yang disampaikan oleh Rasul-Nya untuk menghadap ke arah Ka'bah saat shalat. Umat Islam juga menghormati Ka'bah sebagai tempat kelahiran Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
7. Bukti cinta Allah pada Rasul-Nya
Menghadap kiblat juga mengingatkan umat Islam tentang kecintaan Allah kepada Rasul-Nya. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berhijrah dari Makkah ke Madinah.
@mpa
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!