Kanye West Didenda Rp2,2 Miliar oleh Pengadilan
“Dia memberikan saya handuk lalu berkata, ‘Ini adalah momen yang tidak akan pernah kamu lupakan,’” kata Saxon menirukan ucapan West di pengadilan.
Rumah mewah yang menjadi pusat sengketa ini sebenarnya merupakan karya arsitektur dari arsitek Jepang ternama Tadao Ando, pemenang Pritzker Prize. Menurut Saxon, West ingin merombak total rumah tersebut agar bisa beroperasi secara mandiri tanpa bergantung pada jaringan listrik atau air dari luar.
Perubahan yang dimaksud antara lain dengan menghilangkan instalasi listrik dan pipa air, bahkan mengganti tangga rumah dengan perosotan. Proyek renovasi besar itu kemudian memicu berbagai persoalan yang berujung pada gugatan hukum.
Di sisi lain, tim hukum West membantah sebagian besar tuduhan tersebut. Pengacara West, Andrew Cherkasky, menilai Saxon sebagai saksi yang tidak dapat dipercaya.
“Kebohongan dalam kasus ini begitu dalam sehingga tidak ada satu pun yang bisa dipercaya dari perkataannya,” ujar Cherkasky dalam pernyataan penutup di pengadilan.
Ia juga menunjukkan catatan bank yang disebut membuktikan bahwa Saxon telah menerima pembayaran sebesar 240.000 dolar AS selama enam minggu bekerja. Selain itu, tim hukum West mempertanyakan klaim cedera Saxon dengan menampilkan video yang memperlihatkan pria tersebut tampil bersama band dan berguling di lantai.
West sendiri sempat memberikan kesaksian di persidangan. Ia mengaku tidak mengingat banyak interaksi yang disebutkan Saxon, meskipun mengakui pernah mengeluhkan bau badan pekerja tersebut. Selama persidangan berlangsung, laporan media juga menyebut West sempat terlihat tertidur di ruang sidang, meski pengacaranya membantah hal tersebut.
“Dia tidak tidur. Dia hanya bosan. Kasus ini berada di bawah levelnya,” kata Cherkasky kepada juri.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!