Jadi Guru Besar di Usia 30 Tahun, Prof. Tria, "Ibu saya meminta"
“Maka setiap berdoa, saya selalu bilang, ‘Kalau Allah tidak mengizinkan saya, tidak apa-apa. Hanya saja, saya ingin membahagiakan ibu ketika beliau masih hidup.’ Mungkin kita tidak bisa bersaing dengan orang kaya tapi kita bisa memiliki kecerdasan. Itu yang menjadi kebanggaan ibu saya karena merupakan suatu kehormatan menjadi seorang guru besar,” katanya dengan mata berbinar.
Audiensi kala itu, katanya, situasinya mirip pertandingan SEA Games cabang olahraga sepak bola di laga final Indonesia melawan Thailand. Gol terakhir yang menentukan kemenangan adalah ucapan reviewer yang menyatakan bahwa kejadian yang dialami Prof. Tria adalah cacat prosedural yang bukan berasal dari kesalahan pihak pengaju. Oleh karenanya hal tersebut tidak dapat menjadi hambatan bagi Prof. Tria untuk melanjutkan pengajuan kenaikan jabatan fungsional.
Prof. Tria yang dahulu bahkan hanya membayangkan dirinya menjadi guru kecil, saat ini menyandang gelar kehormatan guru besar. Jangankan menjadi guru besar, Prof. Tria malah sempat berpikir panjang ketika ditawari jadi dosen tidak tetap di kampus almamaternya. Menurutnya, cukup jadi ibu rumah tangga saja karena tidak memiliki prestasi gemilang saat kuliah di Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Bukan hanya itu, nilai indeks prestasi pun pernah berada di bawah 3.
Takdir Allah yang disebutnya sebagai puzzle ini kadang tidak bisa dijangkau. Menurutnya, sebagai manusia, salah satu kelemahannya adalah tidak memiliki kemampuan lebih untuk merangkai puzzle itu sendiri melainkan harus dibantu Allah dan orang-orang sekitar yang datang di kehidupannya. Pengalaman pahitnya pernah ditolak Fakultas Kedokteran UI hingga tangisan pecah berhari-hari ternyata mengantarkan dirinya menemukan jalan lain menuju kisah yang lebih manis yaitu Prodi Gizi Kesehatan Masyarakat UI.
Singkat cerita, Prof. Tria melanjutkan kariernya sebagai akademisi dan dosen di UMJ mengikuti jejak dr. Syafri Guricci dan diminta untuk turut dalam rencana pendirian Program Studi Gizi UMJ. Meskipun masih ada dalam dirinya untuk berhenti dari karier dosennya, nyatanya Allah berkehendak lain. Prof. Tria tetap bertahan di UMJ sejak 2007 sampai sekarang membersamai proses perkembangan dan kemajuan UMJ tercinta.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!