Iran Tegaskan Garis Merah di Tengah Gejolak Internal: Israel dan Pangkalan AS Diancam Jadi Sasaran
Pemerintah Iran menyatakan memahami tuntutan ekonomi masyarakat, namun tetap menegaskan sikap keras terhadap aksi yang dianggap merusak keamanan. Militer Iran menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nasional.
“Angkatan Darat, di bawah komando Panglima Tertinggi, bersama angkatan bersenjata lainnya akan dengan tegas melindungi kepentingan nasional, infrastruktur strategis, dan harta benda publik,” demikian pernyataan militer Iran.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan yang memicu ketegangan. Melalui akun Truth Social miliknya, ia menyebut Washington siap mendukung demonstran Iran.
“Iran sedang mengincar kebebasan, mungkin belum pernah sebelumnya. Amerika Serikat siap membantu,” tulis Trump.
Trump juga kembali mengingatkan opsi serangan militer terhadap Iran. “Itu bukan berarti mengerahkan pasukan darat, tetapi menyerang mereka dengan sangat, sangat keras di titik yang paling menyakitkan,” katanya.
Di tengah situasi tersebut, pemadaman internet nasional di Iran telah berlangsung lebih dari 60 jam. Lembaga pemantau Netblocks menilai langkah itu berisiko besar.
“Sensor ini merupakan ancaman langsung terhadap keselamatan dan kesejahteraan warga Iran pada saat yang krusial bagi masa depan negara,” bunyi pernyataan Netblocks.
Korban jiwa terus bertambah dari kedua belah pihak. LSM Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia mencatat sedikitnya 51 demonstran, termasuk sembilan anak-anak, tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat tindakan aparat keamanan. Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan 109 personel keamanan tewas selama kerusuhan, termasuk puluhan polisi di Isfahan dan Kermanshah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!