Homecare Jember Ubah Pola Layanan Kesehatan, Tenaga Medis Kini Datangi Rumah Warga 1 Aug 2026 Lepas Sambut Danbrigif 9 Kostrad, Gus Fawait Ajak Perkuat Sinergi Bangun Jember 1 Aug 2026 Volume Sampah Kota Sukabumi Terus Meningkat, Akhir Pekan Bisa Capai 194 Ton 1 Aug 2026 Dapur SPPG di Sukabumi Berhenti Beroperasi Sementara Buntut Dugaan Keracunan 1 Aug 2026 VinFast Resmi Gebrak Filipina, Buka 21 Dealer Motor Listrik Sekaligus 1 Aug 2026 Hunian Tak Lagi Sekadar Tempat Tinggal, Pinhome Ungkap Tren Baru Properti 2026 1 Aug 2026 Opening Festival Al Jabbar Digarap Maestro, Siap Guncang Jawa Barat! 1 Aug 2026 Tinta Emas KDS Membawa Pramuka Kabupaten Bandung Teladan di Jawa Barat 1 Aug 2026 Musda KNPI Jabar Tetapkan Bayu Umbara Sebagai Bakal Calon 1 Aug 2026 Kejagung Geledah Rumah Febrie Adriansyah Terkait TPPU 1 Aug 2026 Homecare Jember Ubah Pola Layanan Kesehatan, Tenaga Medis Kini Datangi Rumah Warga 1 Aug 2026 Lepas Sambut Danbrigif 9 Kostrad, Gus Fawait Ajak Perkuat Sinergi Bangun Jember 1 Aug 2026 Volume Sampah Kota Sukabumi Terus Meningkat, Akhir Pekan Bisa Capai 194 Ton 1 Aug 2026 Dapur SPPG di Sukabumi Berhenti Beroperasi Sementara Buntut Dugaan Keracunan 1 Aug 2026 VinFast Resmi Gebrak Filipina, Buka 21 Dealer Motor Listrik Sekaligus 1 Aug 2026 Hunian Tak Lagi Sekadar Tempat Tinggal, Pinhome Ungkap Tren Baru Properti 2026 1 Aug 2026 Opening Festival Al Jabbar Digarap Maestro, Siap Guncang Jawa Barat! 1 Aug 2026 Tinta Emas KDS Membawa Pramuka Kabupaten Bandung Teladan di Jawa Barat 1 Aug 2026 Musda KNPI Jabar Tetapkan Bayu Umbara Sebagai Bakal Calon 1 Aug 2026 Kejagung Geledah Rumah Febrie Adriansyah Terkait TPPU 1 Aug 2026

Investor Global Ramai Serukan Sell Indonesia, Nama Lama Kembali Muncul

Desi Rossilawati
Sabtu, 6 Juni 2026 | 15:11 WIB
Bagikan
Investor Global Ramai Serukan Sell Indonesia, Nama Lama Kembali Muncul

Ilustrasi./visi.news/ist.

VISI.NEWS | BANDUNG - Gelombang aksi jual terhadap aset Indonesia menjadi perhatian pelaku pasar global setelah nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan dalam beberapa bulan terakhir.

Kondisi ini memunculkan kembali perdebatan mengenai kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia di tengah perubahan lanskap politik dan ekonomi nasional.

Menurut laporan yang dikutip dari Straits Times Sabtu (6/6/2027), IHSG telah mengalami penurunan tajam sepanjang 2026 hingga mencapai 36 persen dari posisi puncaknya. Pada saat yang sama, rupiah juga berada dalam tekanan dan menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia.

Fenomena tersebut mendorong sebagian investor global mengambil posisi lebih berhati hati terhadap Indonesia. Bahkan, Head of Research K2 Asset Management, George Boubouras, mengaku telah menarik seluruh eksposur investasinya dari Indonesia sejak 2024.

"Perdagangan besar di Asia saat ini adalah 'jual Indonesia'," ujar George Boubouras dalam keterangannya dikutip, Sabtu (6/6/2027).

"Saya memiliki nol eksposur ke Indonesia. Saya tidak akan memberikan mereka kesempatan," kata Boubouras menambahkan.

Perubahan sentimen pasar disebut tidak terlepas dari meningkatnya kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah. Sejumlah investor menilai ekspansi peran negara dalam perekonomian, berbagai program prioritas pemerintah, hingga kebijakan baru di sektor komoditas menjadi faktor yang memengaruhi persepsi pasar.

Selain itu, hengkangnya Sri Mulyani Indrawati dari posisi Menteri Keuangan pada 2025 disebut sejumlah pelaku pasar sebagai salah satu titik yang mengubah pandangan investor. Selama bertahun tahun, Sri Mulyani dianggap sebagai simbol disiplin fiskal yang mampu menjaga kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mulai mencermati kembali konsistensi kebijakan fiskal dan moneter pemerintah. Asia Head of Rates and Foreign Exchange Strategy J.P. Morgan Private Bank di Hong Kong, Tang Yuxuan, menilai ketidakpastian politik domestik merupakan faktor yang lazim menjadi perhatian investor di negara berkembang.

"Ketidakpastian politik domestik adalah risiko khas pasar berkembang yang cenderung direspons oleh investor global dengan tetap berada di pinggir lapangan sampai prediktabilitas muncul kembali," ujar Tang Yuxuan.

Tekanan pasar juga tercermin dari pergerakan rupiah yang terus melemah. Selain itu, investor asing dilaporkan telah mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah Indonesia hingga Rp86 triliun sejak Agustus tahun lalu. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham dan valuta asing, tetapi juga merambah pasar surat utang negara.

Sejumlah pengelola investasi global turut menyoroti pentingnya kejelasan arah kebijakan pemerintah dan bank sentral untuk memulihkan kepercayaan pasar. Mereka menilai konsistensi kebijakan menjadi faktor utama yang akan menentukan apakah Indonesia mampu kembali menarik arus modal asing dalam jangka menengah hingga panjang.

Di tengah situasi tersebut, perhatian investor kini tertuju pada langkah pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi. Kejelasan kebijakan, koordinasi fiskal dan moneter, serta kemampuan menjaga kredibilitas pengelolaan ekonomi dinilai akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah sentimen pasar terhadap Indonesia ke depan.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.