In Memoriam DR Sirikit Syah, Wartawati Senior yang Berhasil Melawan Kanker Sebaik-Baik Perlawanan

ED
Selasa, 26 April 2022 | 12:11 WIB
Bagikan
In Memoriam DR Sirikit Syah, Wartawati Senior yang Berhasil Melawan Kanker Sebaik-Baik Perlawanan

Pernah belasan tahun kontak kami terputus karena kesibukan. Namun saya mengikuti aktifitas Ikit yang kelak dikenal melalui karya-karya sastranya berupa esai, puisi, dan cerita pendek yang dipublikasikan di sejumlah media massa. Sirikit Syah adalah alumni Universitas Negeri Surabaya dan menjadi salah satu akademisi di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (STIKOSA - AWS) dan pendiri Sirikit School of Writing (SSW).

Catatan di Wikipedia, sejak usia muda Ikit memang sudah mencita-citakan menjadi guru. Itulah yang mendorongnya masuk kuliah di IKIP Surabaya pada tahun 1984. Namun setelah lulus, dia justru menekuni kariernya sebagai wartawati di Surabaya Post (1984-1990), RCTI/SCTV (1990-1996), dan The Jakarta Post (1996-2000). Di sela -sela waktu, toh masih mengabdi di dunia pendidikan dengan mengajar di Universitas Dr. Soetomo (1996-2001). Sepulang dari London dengan gelar Master Komunikasi (2001-2002), Sirikit dipercaya mengelola Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya (STIKOSA). Di luar aktivitasnya sebagai pengajar dan wartawan, dia juga menjadi pengamat media yang cukup kritis melalui Lembaga Konsumen Media (Media Watch!) yang didirikan pada tahun 1999.

DR Hernani Sirikit MA nama lengkapnya, berhasil meraih gelar doktor Ilmu Bahasa di Universitas Negeri Surabaya dengan disertasi " Naming anda Labeling In Terrorism News Reports Published di The Jakarta Post" (2018).

Sirikit Syah mengontak saya tiga tahun lalu menyampaikan ucapan terima kasih karena dimasukkan dalam jajaran pengurus bidang pendidikan di PWI Pusat. Di WAG PWI Pusat, Ikit cukup aktif berdiskusi dan membagi link tulisannya yang berkaitab berkaitan dengan kemerdekasn pers dan juga topik yang terkait dengan ketimpangan sosial. Di WAG lain, Ikit belum lama berpolemik dengan novelis Akmal Nasery tentang invasi Rusia ke Ukraina. Polemik itu berlangsung berhari-hari, dan kami member WAG membiarkan saja mereka berpolemik saking menariknya. Istilah anak milenial, isinya daging semua.

Kepergian Mbak Ikit sungguh mengejutkan. Memang sudah tiga pekan ia tak aktif berkabar di WAG. Statusnya di Facebook 3 April lalu menceritakan kesedihannya tidak bisa ikut bergembira dengan cucunya yang hari itu berulang tahun ke delapan. Nah. Ini masih ketemu ulasannya di FB itu. Saya kutipkan. Sesuai teks aslinya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.