Imlek: Back to Basic Characters
Kendati pada akhirnya, para pelukis ‘Mooi Indie’ seperti Jan Frank, F. J. du Chattel, Isaac Israels, Romualdo Locatelli, Henry van Velthuijzen, Ernest Dezentje, Antonio Blanco, Walter Spies, Antonio Payen, Raden Saleh, Abdullah Suryosubroto, Wakidi, Mas Pirngadi dan Basuki Abdullah akhir-akhir ini diakui sebagai para maestro seni lukis Indonesia, sebagaimana Sudjojono, Affandi dan Hendra Gunawan.
Istilah ‘Mooi Indie’ sebagai ‘wacana pasar’ pernah bergulir pada konsorsium seni di TIM pada tahun 1988. Pada diskusi itu, Agus Darmawan Tantono melontarkan ‘wacana ekonomisasi seni rupa’ sebagai ‘paradigma utama’ seni rupa Indonesia dimasa depan yang dimulai oleh pasar lukisan ‘maestro’. Tetapi wacana ini ditolak oleh sejumlah pemikir seni, yang menginginkan seni rupa Indonesia kelihatan ‘suci’ beridealisme tinggi. Para pemikir seni mengatakan ‘ekonomisasi seni rupa’ tak lebih dari halusinasi para pedagang lukisan dari ‘Pasar Glodok’.
Ihwal ‘ekonomisasi’ sebagai paradigma seni rupa modern-kontemporer, terus berkelanjutan ketika para seniman akademik berlahiran. Pada awal tahun 2000, ketika bom seni lukis kontemporer Cina dan Jepang mengoyak Seni Rupa Asia Tenggara, menumbuhkan kekhawatiran sejumlah pemikir seni di Indonesia. Dan karena para pelukis Cina dan Jepang didukung oleh insfrastruktur yang sangat tertata, mereka hanya memerlukan waktu 5 tahun untuk melumatkan karakter seni lukis Indonesia kontemporer. Dari peristiwa itu, disadari atau tidak, paradigma seni rupa Indonesia adalah ‘ekonomisasi’, yang berhasil menyeret para pengamat, kritikus, dan kurator untuk terlibat erat dengan para promotor yang “menggoreng” sejumlah pelukis, menyusun berbagai tema pameran, mendisplay, menuliskan kompromi kuratorial, menawarkan dan menjual di berbagai event ‘Art Fair’ dan ‘Balai Lelang’ seni rupa.
Penggalian Karakter
Nanang Widjaja mencermati bahwa ‘ekonomisasi seni rupa’ yang dulu dianggap tabu oleh sejumlah pemikir seni, kini dijalaninya dengan menggali karakter dasar supaya karya-karyanya memiliki karakter personal. Seniman yang unggul adalah seniman yang siap berperang. Maka semenjak sepuluh tahun lalu, Nanang Widjaya, menekuni proses melukis ‘on the spot’ di alam perkotaan yang kompleks melalui teknik cat air di atas kanvas sebagai dasar perwujudan karakternya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!