Imlek: Back to Basic Characters

ED
Kamis, 23 Januari 2025 | 12:39 WIB
Bagikan
Imlek: Back to Basic Characters

Karya-karya Nanang Widjaya memperlihatkan kekuatan karakter garis-garis dan sapuan warna yang khas dalam proses melukis cepat. Polemik Lukisan On The Spot Proses melukis dengan teknik ‘on the spot’ seperti yang dijalani Nanang Widjaya, pada akhir abad ke-16 merupakan kegiatan para pelukis Eropa di pulau Jawa yang kemudian menjadi tradisi yang menular kepada para pelukis pribumi, yang tidak bisa dipungkiri menjadi ‘titik awal’ terbentuknya ‘seni rupa Indonesia modern’. Karya-karya lukisan pemandangan alam kemudian populer hingga mampu mengundang para pelancong Eropa untuk berkunjung ke pulau Jawa. Kepopuleran lukisan-lukisan pemandangan alam, pada abad ke 20 mendapat penentangan dari S. Sudjojono, salah satu tokoh pendiri ‘Persagi’ (Persatuan Ahli Gambar Indonesia).

Karya-karya lukisan ‘pemandangan alam Nusantara’, dalam pandangan Sudjojono, hanya sebagai karya-karya ‘Mooi Indie’ yaitu barang souvenir yang molek, yang tidak mengungkapkan realitas rakyat Hindia yang mengenaskan di bawah penjajahan Belanda.

Para penulis seni rupa Indonesia pada dekade berikutnya seperti Kusnadi, Trisno Sumardjo, Oesman Efendi, Dan Suwaryono berpendapat bahwa ‘sejarah seni rupa Indonesia modern’ dimulai pada era ‘Persagi’. Titik awal perjalanan sejarah seni lukis modern Indonesia dimulai oleh ‘ideologi nasionalisme’ yang digaungkan Sudjojono melalui ungkapan ‘seni sebagai jiwa ketok’ ketika menjawab tulisan Henry van Velthuijzen yang mengkritisi pameran kelompok ‘Persagi’ di toko buku Kunstzaal Kolff pada 1939. Berdasarkan ‘ideologi nasionalisme’ itu para penulis seni rupa merasa tidak perlu mendata para pelukis masa kolonial yang menjadi titik awal masuknya seni lukis Barat modern ke Indonesia. Para pelukis Eropa itu akhirnya banyak yang hilang dari pendataan para penulis sejarah seni rupa Indonesia.

Para penulis yang sezaman dengan Sudjojono mengetahui bahwa karya-karya lukisan ‘Mooi Indie’ yang erat korelasinya dengan hasrat para pelancong Eropa bisa memakmurkan senimannya. Lukisan-lukisan ‘Mooi Indie’ dianggap tanda mata khas Indonesia. Sejalan dengan kegiatan melukis pemandangan, para pelukis ‘Mooi Indie’ juga mengerjakan order lukisan yang bertolak pada kompromi objek, lukisan portrait dan lain sebagainya. Hegemoni gaya lukisan ‘Moi Indie’ membangkitkan idealisme Sudjojono dan kawan-kawan untuk melawan, antara lain dengan mendirikan Persagi pada 1938. Sikap dan eksistensi Sudjojono bersama para pelukis ‘Persagi’ menumbuhkan pengaruh yang mendalam terhadap para pelukis era pasca kemerdekaan Republik Indonesia.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.