HIKMAH | Tawadu, Mengangkat Derajat
Islam mengajarkan sikap tawadu dalam keluarga. Membantu pekerjaan istri di rumah adalah contoh yang pernah dilakukan Nabi Muhammad saw. untuk menjadi pelajaran bagi kita umatnya.
Bahkan Beliau juga mengajarkan tawadu sampai kepada pembantu rumah tangga. Beliau berkata bahwa apabila seorang pembantu membawakan engkau makanan, jika engkau tidak sempat makan bersama, maka cicipilah satu atau dua suap karena dapat melegakan hatinya.
Tawadu ada dua macam bentuknya, jika dipahami tawadu dengan hormat, sopan dan santun. Tawadu yang baik seperti orang yang menghormati serta santun di hadapan orang tanpa pamrih, tapi semata karena akhlak yang mulia untuk dipraktikan. Sesuai pesan Nabi, hormati yang lebih besar dan sayangi yang lebih kecil.
Ada juga tawadu yang jelek. Hormat dan sopan yang dibuat-buat karena ada kepentingan. Ini sesuai dengan pepatah “ada udang di balik batu”.
Makna lain dari tawadu ialah yang berkenaan dengan status hamba kepada Allah SWT. Hamba yang menaati aturan Tuhan dan menjauhi laranganNya adalah sikap tawadu manusia kepada Sang Khalik. Manusia yang sombong adalah mereka yang tidak peduli dan menganggap remeh perintah dan larangan Allah swt.
Tiadalah orang yang tawadhu kecuali akan diangkat oleh Allah dan manusia. Dan tiadalah orang sombong kecuali akan dihinakan oleh Allah dan manusia. @fen/sumber: muisulsel.com/mui.or.id
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!